Agustus 2018, pengangguran di Papua 3,2 persen 

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Jayapura, Jubi – Tingkat pengangguran di Papua pada Agustus 2018 mencapai 3,20 persen dari total angkatan kerja 1.835.963 orang. Angka tersebut masih di bawah nasional sebesar 5,34 persen. 

Kepala Bidang Statistik Sosial BPS Papua, Bagus Susilo, mengatakan tingkat pengangguran terbuka (TPT) tertinggi di Papua berada pada penganggur dengan tingkat pendidikan sekolah menengah kejuruan yang mencapai 8,23 persen.

"Penganggur dengan tingkat pendidikan sekolah lainnya yang di atas lima persen, yakni tingkat pendidikan Diploma I, II, III (6,66 persen), dan universitas (6,33 persen)," kata Bagus, di Jayapura, Senin (5/11/2018).

Selain itu, tingkat pendidikan lainnya yang memiliki TPT di bawah tiga persen, yakni pendidikan sekolah menengah pertama (2,22 persen) dan sekolah dasar (0,98 persen). 

"Pada Agustus 2018, TPT terkecil berada pada penganggur dengan tingkat pendidikan sekolah menengah atas yakni hanya 0,08 persen," ujarnya.

Menurut ia, selama satu tahun terakhir (Agustus 2017-Agustus 2018), secara umum TPT di Papua mengalami penurunan sebesar 0,42 persen. Namun, bila dibandingkan dengan Februari 2018 terjadi kenaikan senilai 0,19 persen. 

Terkait dengan kenaikan TPT tersebut, berdasarkan tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan maka peningkatan drastis terjadi pada jenjang pendidikan universitas sebesar 5,91 persen. 

Sementara itu, dalam periode yang sama, TPT menurut pendidikan tertiggi yang mengalami penurunan terbanyak terjadi pada pendidikan sekolah menengah atas yakni senilai 6,73 persen. Kemudian diikuti oleh pendidikan sekolah menengah pertama yang turun sebesar 0,90 persen.

"Sedangkan TPT pada tamatan pendidikan Diploma I, II, III dan SD ke bawah masing-masing menyusut sebesar 0,30 dan 0,29 persen," katanya. 

Secara terpisah, Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Papua, Yan Piet Rawar, mengatakan pola pikir generasi muda, khususnya dalam hal mencari kerja, harus terus diubah dengan berbagai pelatihan dan pembinaan. 

Sebab menurut ia, hal tersebut penting dilakukan agar keterampilan kerja yang didapat dari berbagai pelatihan bisa digunakan untuk menciptakan lapangan kerja sendiri, tanpa harus berharap banyak hanya pada penerimaan CPNS saja.

"Ini perlu dilakukan terobosan-terobosan, setidaknya apa yang diperoleh dari pelatihan-pelatihan dapat digunakan untuk membuka lapangan kerja sendiri sehingga mampu bersaing dengan sesamanya dari luar yang datang bekerja di Papua," kata Rawar. (*)

Related posts

Leave a Reply