
Jayapura, 13/6 (Jubi)—Tata ruang secara sederhana ibarat kitorang membagi ruang di dalam sebuah rumah agar kelihatan indah, teratur dan rapih serta tidak membahayakan si empunya rumah. Artinya kalau ruang tamu jelas untuk menerima tamu dan bukan dipakai sebagai dapur atau kamar mandi. Apalagi kalau su atur sesuka hati maka namanya berubah menjadi taka ruang dalam menata ruang.
Salah satu yang bisa dilihat di Kota Jayapura adalah bagaimana menata ruang agar kelihatannya teratur dan sesuai dengan peruntukan lahan. Bahkan penataan itu akan menarik dan tidak membahayakan bagi warga yang bermukim didalamnya. Sayangnya ketika semua ikut berperan. Bagi pihak yang punya uang so pasti akan langsung membeli lahan pada pemilik tanah atau mungkin melalui tangan kedua atau pun ketiga.
Meskipun ada kepala pemerintahan dari yang tertinggi sampai terendah di Kota Jayapura memerintah dan mengatur warga, tetapi jika si pemilik tanah sudah banting meter (pemiliki tanah mengukur tanah adat untuk dilepas ke developer atau pengusaha) . Tak ada yang bisa melawan meskipun lahan itu tidak layak, mau bilang apa jadinya.
Antara kekuasaan adat dan pemerintah tak pernah mau konsisten. Artinya kalau lahan tidak layak untuk permukiman jangan dipaksa untuk membangun kawasan permukiman. Cilakanya lagi kalau pemerintah terpaksa berkompromi dan melanggar aturan tata ruang maka tak heran kalau petaka datang karena takaruang wilayah.
BTN Organda Padangbulan dan Jalan Furia Kotaraja tempat tinggal orang nomor satu di Kota Jayapura memiliki kesamaan dalam penataan ruang agar terhindar dari bahaya banjir dan sedimentasi. Lokasi kedua tempat ini rendah dan letaknya berdekatan dengan daerah aliran sungai. Organda terdapat dua kali kecil yang turun ke permukiman yang kini dibuat perumahan yang sebelumnya adalah dusun sagu.
Begitupula kawasan Jalan Furia keluar ke Kantor Dinas Otonom Provinsi Papua adalah dusun sagu milik masyarakat Injros dan Tobati. Ada Kali Acai dan Kali Kotaraja yang bermuara ke Teluk Joutefa. Hampir sebagian besar air yang keluar dari Organda, Perumnas IV dan sekitarnya bermuara ke Teluk Youtefa terkecuali Perumnas III dan kawasan Waena semuanya masuk ke Danau Sentani.
Sebelum air kali masuk ke Teluk Joutefa atau pun Danau Sentani harus melalui sebuah filter yang namanya dusun sagu. Tidak semua air akan masuk ke Danau Sentani maupun Teluk Joutefa karena akan tertahan di kawasan hutan sagu.
Bagi masyarakat Kampung Joka, kawasan Organda Padangbulan merupakan dusun sagu mereka. Sepanjang jalan Abe ke Kotaraja dulu sebelum ada Saga Mall, Mega Mall dan Ramayana Mall serta perumahan Pemda Melati dan Dinas Otonom merupakan dusun sagu milik masyarakat Injros dan Tobati.
Sayangnya gedung-gedung pengganti dusun sagu tak mampu memainkan peran sebagai filter atau menyerap air. Akibatnya ketika hujan turun dan drainasenya jelek maka tak heran kalau air akan meluap ke mana-mana. Bahkan jalan raya bisa berubah menjadi sungai kala hujan begitu derasnya.
Banyak pihak menanyakan pantaskah Kota Jayapura dapat Adipura? Pertanyaan ini tak usah diperdebatkan lagi karena Pak BTM (Benhur Tommy Mano) sudah terima Adipura dari tangan orang nomor satu di Republik Indonesia, Presiden SBY di Jakarta.
Ada yang bilang penghargaan Adipura ini agar mendorong warga lebih peduli terhadap lingkungan hidup. Atau jangan-jangan sebaliknya setelah Adipura datang dan sumber air terus masuk serta menggenangi rumah-rumah penduduk. Artinya sumber air semakin dekat hingga menenggelamkan rumah-rumah.
Yang dibutuhkan adalah solusi untuk menyelesaikan masalah taka ruang kota menjadi tata ruang yang teratur rapih tanpa mengorbankan masyarakat, lingkungan hidup bagi flora dan fauna di atasnya. Paling tidak mengatur drainase yang baik agar air terus mengalir ke pembuangan yang sebenarnya.(Jubi/Dominggus A Mampioper)




