Papua No. 1 News Portal | Jubi ,
Jayapura, Jubi – Sebanyak 65,71 persen perempuan produktif secara nasional dinilai belum berperan optimal dalam pembangunan. Hal tersebut disebabkan masih rendahnya kualitas hidup dan tingkat pendidikan yang dimiliki oleh kaum perempuan.
"Untuk itu dibutuhkan peningkatan kualitas dan kemampuan perempuan melalui dukungan, khususnya lembaga masyarakat dan juga kaum laki laki demi mewujudkan kesetaraan gender di Indonesia," ujar Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise, saat menghadiri pengukuhan Dewan Perwakilan Cabang Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI) Provinsi Papua, di Kota Jayapura, Jumat (4/5/2018).
Menteri Yohana menyebut perempuan punya potensi sangat besar ikut berpatisipasi dalam mengontrol dan memberikan manfaat pada pembangunan negara. Potensi tersebut harus dikelola dan diarahkan dengan baik seperti meningkatkan kapasitas dan meningkatkan akses bagi perempuan untuk berpatisipasi.
"Pembangunan pemberdayaan perempuan merupakan suatu komitmen nasional dalam meningkatkan status, posisi, dan kondisi perempuan agar dapat mencapai kemajuan yang setara dengan laki laki," kata Yohana menambahkan.
Ia berharap ada sinergitas yang kuat antara lembaga masyarakat dengan pemerintah baik pusat dan daerah serta organisasi keagamaan, akademisi, dunia usaha, dan media. Peran lembaga masyarakat dinilai sangat penting, karena jejaring dan koneksi yang dimiliki hingga ke wilayah akar rumput dan berpotensi besar dalam meningkatkan peran serta masyarakat mulai dari individu dan keluarga dalam masyarakat.
"Untuk itu mari bersama kita tingkatkan kinerja demi kemajuan dan kesejahteraan perempuan dan anak di Indonesia," katanya.
Ketua Umum FPPI, Utari Sutanto mengatakan organisasinya terbentuk sejak 2009 lalu dan sudah tersebar di 29 Provinsi. Di setiap daerah terdapat kelompok binaan FPPI yang terus eksis sampai saat ini di antaranya binaan para istri nelayan, para pembuat kue di Sumatera Utara
“Begitu pula saat ini FPPI bekerja sama dengan kemendikbud untuk program parenting,”kata Utari.
Ia menilai FPPI di Papua sangat berarti karena perempuan Papua mempunyai potensi yang sangat besar untuk berpartisipasi dalam pembangunan. (*)
