Warga protes aroma kotoran dari kandang ayam

Spanduk yang dipasang masyarakat Kampung Marga Mulya, Distrik Semangga, Kabupaten Merauke – Jubi/Frans L Kobun
Spanduk yang dipasang masyarakat Kampung Marga Mulya, Distrik Semangga, Kabupaten Merauke – Jubi/Frans L Kobun

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Warga meminta Bupati Merauke membebaskan udara dari aroma kotoran ayam PT Harvest Pulus Papua.

Read More

SEJUMLAH spanduk dipasang di pinggir jalan, terpaut sekitar 50 meter dari area kandang ayam milik PT Harvest Pulus Papua yang beralamat di Kampung Marga Mulya, Distrik Semangga, Kabupaten Merauke.

Spanduk, baik dari papan tripleks maupun kain itu, bertuliskan, “Stop Pencemaran Udara Bau Tai Ayam, Kami Sangat Terganggu” dan “Permintaan kepada Bupati Merauke Frederikus Gebze untuk Bebaskan Kami dari Bau Tai Ayam, Tutup Saja PT Harvest Pulus Papua”.

Itulah kalimat spanduk sebagai ungkapan protes  3.000-an jiwa warga di kampung tersebut terhadap kehadiran kandang yang memproduksi ayam petelur. Mereka memprotes karena aroma menyengat kotoran (tahi) ayam menggangu masyarakat setempat.

Belum lagi sekitar 100 meter dari lokasi peternakan terdapati perumahan penduduk, masjid, dan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini).

Duwiranto, 35 tahun, warga Kampung Marga Mulya menuturkan kehadiran perusahaan yang menggeluti usaha peternakan ayam petelur tersebut sangat mengganggu masyarakat sekitar.

“Terus terang kami sangat terganggu, ketika aroma tahi ayam datang dibawa angina, biasanya kalau pagi sampai siang tidak terlalu terasa, tetapi mulai Magrib hingga dini hari membuat kami terganggu,” ujarnya.

Masyarakat setempat sangat berharap perusahaan tersebut memindahkan kandang bersama ribuan ekor ayam petelur ke tempat lain, karena aroma yang sangat menyengat mengganggu aktivitas masyarakat maupun istirahat malam warga.

Samsyah, 60 tahun, warga RT 17/ RW7, Kampung Marga Mulya juga meminta perusahaan angkat kaki dari lokasi tersebut karena akibat aroma tahi ayam terkadang masyarakat tak dapat istirahat malam dengan tenang.

“Terus terang baunya minta ampun, sangat menyengat, memang warga memasang sejumlah spanduk di sini sebagai ungkapan protes terhadap kehadiran perusahan tersebut,” katanya.

Lokasi kandang ayam petelur milik PT Harvest Pulus Papua – Jubi/Frans L Kobun

Kepala Kampung Marga Mulya, Subaida Alfakir, mengatakan aroma tahi ayam sudah berlangsung lama, kurang lebih lima tahun. Setelah adanya keluhan warga berulang kali, akhirnya ia melakukan sidak dengan mendatangi lokasi kandang ayam milik perusaha tersebut.

“Memang kalau masuk di dalam area beberapa kandang aromanya tidak terlalu menyengat, boleh dikatakan masih standar lantaran terdapat blower yang merupakan salah satu rangkaian dalam closed house system untuk mensirkulasi udara dalam kandang,” katanya.

Namun begitu, ketika sudah keluar dari area kandang, aroma tahi ayam tercium yang terjadi pada Maghrib hingga dini hari. Jangkauannya hingga 2 kilometer.

“Lalu aroma mengikuti arah angin, jika angin ke arah Utara maka warga setempat akan merasakan, begitu juga angin ke arah Timur dan Selatan, pasti aroma menyengat dicium warga lain,” katanya.

Dia pun meminta dinas terkait menyelidiki lebih lanjut, sehubungan dengan aroma yang sangat mengganggu itu. Apalagi warga merasakan bukan dalam satu atau dua hari terakhir, melainkan sudah kurang lebih lima tahun.

“Betul bahwa selain padatnya permukiman warga juga terdapat rumah ibadah (masjid)  serta salah satu PAUD tentu sangat menggangu saat sembahyang maupun kegiatan belajar mengajar,” ujarnya.

Dulu, kata Subaida, masyarakat masih bersabar sambil meminta perusahaan menetralkan aroma tahi ayam dengan obat-obatan maupun kapur. Namun sepertinya tidak direspons.

“Akhirnya mereka mengambil langkah memasang sejumlah spanduk di jalan masuk perusahaan,” ujarnya.

Subaida mengatakan masyarakat di kampung tersebut berjumlah 860 kepala keluarga atau 3.000 jiwa. Mereka meminta perusahaan ditutup atau mengalihkan kegiatan peternakan ayam petelur ke tempat lain.

“Memang lokasi kandang sangat dekat dengan permukiman sehingga masyarakat merasakan dampak secara langsung dimana aroma yang sangat menyengat pada malam hingga dini hari,” katanya.

Subaida Alfakir mengaku mulanya mendapatkan informasi jumlah ayam petelur di peternakan tersebut hanya 10.000 ekor. Namun setelah melakukan sidak di kandang ternyata 30.000 ekor. Bahkan belakangan sudah 40.000 ekor.

“Ini justru akan mengkhawatirkan warga, karena kotoran tahi ayam akan bertambah dan aromanya menyebar ke berbagai tempat,” katanya.

Gimin, 43 tahun, pekerja PT Harvest Pulus Papua-Merauke, mengaku kotoran tahi ayam tidak menimbulkan aroma menyengat hingga mengganggu aktivitas masyarakat, lantaran dicampuri dengan dolomit, kapur, e-4, dan arang sekam. Itu rutin dilakukan setiap hari mengingat dalam sehari kotoran tahi ayam bisa mencapai 1 ton.

“Memang beberapa jenis zat itu harus dicampurkan sehingga dapat menetralkan aroma kotoran tahi  ayam,” ujarnya.

Ia mengakui perusahaan sempat kesulitan mendapatkan kapur pada Oktober 2019 karena habis. Stok harus dipesan terlebih dahulu. Ia mengaku saat ini sudah banyak tersimpan di gudang dan sudah dapat digunakan untuk dicampurkan dengan beberapa zat lain.

“Ada limbah pengolahan milik perusahaan yang jaraknya sekitar 3 km dari lokasi kandang ayam dan juga dari permukiman penduduk, lalu di lokasi telah disiapkan sejumlah lubang sekaligus dimasukan kotoran yang dikemas dalam karung, sekaligus ditutup dengan terpal lagi dari bagian atas,” katanya. (*)

Editor: Syofiardi

Related posts

Leave a Reply