Papua No.1 News Portal | Jubi
Suva, Jubi – Serikat pekerja dan pelajar di Universitas Pasifik Selatan (University of the South Pacific/ USP) telah memprotes karena mereka muak atas apa yang, menurut mereka, adalah campur tangan dan kehadiran oleh kepolisian Fiji yang tidak diinginkan di kampusnya di Laucala.
“Kami menuntut hal-hal ini harus segera dihentikan agar staf dapat bekerja dan mempersiapkan mahasiswa yang akan masuk untuk semester yang akan datang ke depan,” menurut pernyataan bersama Rabu ini (10/2/2021) dari Asosiasi Staf USP (AUSPS), Serikat Staf USP (USPSU), dan asosiasi pelajar USP, USPSA.
Semua serikat menyebut aktivitas polisi itu sebagai “serangan terhadap hak-hak staf untuk berkarya dengan bebas, dengan bermartabat, dan aman di tempat kerja.”
Serikat pekerja membenarkan bahwa sekelompok anggota polisi terlihat berada di kampus itu sejak deportasi rektor Profesor Pal Ahluwalia yang ‘tidak etis’, Kamis lalu.
Petugas keamanan USP juga melaporkan sejumlah insiden melibatkan kendaraan polisi yang telah mereka tolak saat polisi ingin memasuki kompleks kampus.
“Ini kali lihat sebagai upaya untuk mengganggu dan mengintimidasi staf USP yang sedang bersiap untuk semester depan,” menurut pernyataan itu.
Kepolisian Fiji lalu diingatkan bahwa kampus Laucala adalah tempat untuk bekerja dan menerima pendidikan tinggi bagi mahasiswa regional Pasifik serta mahasiswa dari Fiji.
“Oleh karena itu, polisi harus menghormati hak para pelajar ini untuk menerima bantuan staf USP dalam lingkungan yang bebas dari pelecehan dan intimidasi,” lanjut pernyataan itu.
USP adalah perguruan tinggi regional milik 12 negara Kepulauan Pasifik.
Partai oposisi di Fiji, National Federation Party (NFP), mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa kredibilitas Fiji sebagai negara yang tersohor di kawasan itu dipertaruhkan setelah deportasi Profesor Ahluwalia, disadur dari RNZ Pacific. Kubu oposisi Fiji meninggalkan parlemen Selasa kemarin setelah ketua parlemen menolak untuk memberikan izin bagi oposisi untuk mendebatnya pertanyaan mendesak tentang deportasi Profesor Ahluwalia dan istrinya, dengan mengatakan persoalan itu bukanlah kepentingan publik. (Asia Pacific Report)
Editor: Kristianto Galuwo
