Papua No.1 News Portal | Jubi
Nuku’alofa, Jubi – Seorang wartawan di Tonga berharap ketika kerajaan Tonga telah menyetujui UU tentang penyalahgunaan internet, Electronic Communication Abuse Offences Act, hukum itu akan memungkinkan dia untuk bebas dari kesengsaraan yang dia klaim disebabkan oleh perundungan melalui dunia maya terhadapnya oleh Perdana Menteri negara itu.
Salamo Fulivai, seorang mantan reporter kepala di Tonga Broadcasting Commission, menyinyalir perdana menteri negara itu, Pōhiva Tu’i’onetoa, telah melecehkan, meremehkan, dan merundungnya melalui internet beberapa kali ketika dia mencoba mewawancarainya mengenai berita yang sedang dia kerjakan.
Dia berharap dapat menggunakan UU yang baru untuk menuntut sang perdana menteri ke pengadilan.
Fulivai mengirimkan sejumlah pertanyaan kepada PM Tu’i’onetoa tahun lalu dalam kapasitasnya sebagai reporter untuk koran Kele’a Newspaper.
Dia berkata bahwa bukannya fokus pada masalah yang dibahas, Perdana Menteri malah meremehkan dan mengejeknya.
Fulivai mengirimkan daftar pertanyaan kepada PM Tu’i’onetoa melalui posel, termasuk pertanyaan untuk meminta konfirmasi dari perdana menteri mengenai rencana pemerintah untuk membuka maskapai penerbangan baru sendiri dan apakah beliau dapat memberi tahu Fulivai tentang alasan dibalik keputusan tersebut.
Dalam balasan dari PM Tu’i’onetoa ke Fulivai yang dilihat oleh Kaniva News, itu berisi: “berhenti omong kosong dan menyusun pertanyaan yang tidak berarti, pertanyaan Anda menunjukkan bahwa Anda berulang kali tidak lulus kelas enam. Ini hanya membuang-buang waktu saya untuk menjawab pertanyaan yang tidak berarti seperti itu.”
Fulivai menanggapi Perdana Menteri dengan menyinggung: “Jika seseorang gagal lulus kelas enam berulang kali, itu dapat ditunjukkan oleh bahasa yang digunakan untuk berbicara dengan seseorang.”
“Seharusnya mudah bagi Anda untuk menjawab pertanyaan saya dengan kata ya atau tidak. Tetapi bagi Anda, dengan menghindari pertanyaan saya dan menggunakan bahasa seperti itu, maka cara berpikir dan lingkungan dimana Anda dibesarkan kemudian akan dipertanyakan. Terima kasih, pastor,” jawab Fulivai, mengacu pada latar belakang keagamaan Tu’i’onetoa, yang termasuk pendidikan doktor dalam bidang pelayanan Kristen dari Faith Evangelical Lutheran Seminary di Amerika Serikat.
Posel antara Fulivai dan Tu’i’onetoa sudah dimulai sejak November 2019.
Dalam posel lain pada Mei 2020, PM Tu’i’onetoa menulis: “Salamo, menurutmu pekerja hanyalah menjawab pertanyaan tanpa melakukan hal lain. Hentikan omong kosong ini! Di mana Anda mengikuti pelatihan sebagai reporter?”
Fulivai mengatakan kepada Kaniva News bahwa dia merasa sulit untuk melakukan pekerjaannya karena situasi itu.
Meski Fulivai berharap UU yang relevan akan memberikan dasar tuntutan hukumnya terhadap PM, tindakan hukum apa pun dari pihaknya harus ditunda sampai hukum yang baru telah berlaku.
Seperti laporan Kaniva News sebelumnya, UU itu telah disahkan oleh parlemen Tonga tahun lalu, tetapi masih menunggu tanda tangan raja.
Kaniva News telah menghubungi kantor perdana menteri untuk meminta komentarnya. (Kaniva Tonga)
Editor: Kristianto Galuwo
