Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1
Merauke, Jubi – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Merauke ikut angkat bicara dengan kondisi anak-anak Papua yang berprofesi sebagai pemulung serta mengisap lem aibon, sehingga pendidikan diabaikan.
“Saya sangat sedih melihat keberadaan anak-anak Papua yang tidak sekolah,” ujar anggota DPRD Kabupaten Merauke, Hendrikus Hengky Ndiken saat ditemui Jubi Senin (27/2/2017).
“Salah satu solusi agar anak-anak asli Papua mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan adalah dengan menerapkan sekolah berpola asrama,” katanya.
Menurutnya, kondisi ekonomi orangtua yang lemah menjadi satu penyebabnya. “Bagaimana mungkin orangtua mengurus anak-anak untuk biaya sekolah, beli seragam maupun kebutuhan makan setiap hari, sementara kondisi perekonomian tidak mendukung sama sekali,” tuturnya.
Hengky menjelaskan, umunya orangtua dari anak-anak Papua itu, tak memiliki penghasilan tetap. Mereka masih menggantungkan hidup dengan alam. Mereka ke hutan menjaring mendapatkan ikan serta mencari makanan untuk hari itu. Besok baru mencari lagi.
Selain itu tingkat pendidikan orangtua yang rendah juga turut menjadi sebabnya. “Salah satu solusi adalah bagaimana pemerintah ikut bertanggungjawab mendorong pendidikan berpola asrama,” saran dia.
Dengan pendidikan berpola asrama, akan memberikan manfaat besar bagi anak-anak. “Ya, meskipun di asrama, orangtua dapat mengunjungi anaknya dan memotivasi untuk belajar demi masa depan,” katanya.
Kepala Sekolah SD/SMP/SMA Terintegrasi Wasur, Sergius Womsiwor mengatakan, pendidikan berpola asrama, sudah diterapkan sejak beberapa tahun terakhir. Ratusan anak asli Papua dari kampung-kampung, tinggal di asrama sambil diberikan kesempatan sekolah.
“Semua biaya dan kebutuhan makan sekolah yang menanggung. Memang banyak persoalan saya hadapi, namun selalu ada jalan yang saya dapatkan. Kebutuhan anak-anak didik terpenuhi dan dapat mengikuti proses belajar mengajar dengan baik,” tuturnya. (*)
