PT Persipura Papua dan klub Persipura

Sekretariat Persipura Jayapura Papua
Sekretariat Persipura Jayapura Papua – Jubi/IST

Papua No. 1 News Portal | Jubi

MEMASUKI era klub profesional di sepak bola Indonesia, membuat Persipura harus berubah status dari amatir ke PT Persipura Papua. Bersumber dari data https://iditrix.com menyebutkan bahwa Persipura termasuk perusahaan Indonesia dengan nomor registrasi 92/69370 diterbitkan pada 2012 dengan alamat terdaftar di Jalan Balai Kota No.1 Entrop, Kota Jayapura, Papua.

Meski dalam data iditrix.com tak menyebutkan dalam direktur, tetapi umumnya publik di Kota Jayapura maupun di Indonesia mengetahui bahwa Direktur PT Persipura Papua adalah Herat Kalengkongan. Perubahan klub Persipura dari klub amatir menjadi klub sepak bola sebagai perusahaan yang profesional sesuai dengan lisensi PSSI maupun AFC dan FIFA.

Read More

Guna masuk dalam klub profesional untuk mendapat lisensi klub profesional Asian Football Confederation (AFC) harus memiliki lima kriteria khusus sebagai penilaian. Lima kriteria itu antara lain legalitas (PT Persipura Papua), finansial infrastruktur, sumber daya manusia, dan administrasi serta sporting (pembinaan usia dini).

  1. Aspek Legal

Melihat lima kriteria di atas, arsip.jubi.id mulai menelusuri di mana letak dan alamat pasti PT Persipura Papua. Pertama, pantauan arsip.jubi.id di lapangan pada Sabtu (6/3/2021) melintasi jalan Raya Abepura tepat di GOR Olahraga Waringin, Kotaraja. Terpampang tiga papan nama pertama tertulis Persipura, Persatuan Sepakbola Indonesia, papan kedua tertulis nama Dinas Olahraga Kota Jayapura, dan terakhir ada nama KONI Kota Jayapura.

Hal ini berbeda dengan akte perusahaan Persipura yang tertulis alamat perusahaan Persipura Papua di jalan Balai Kota Entrop. Namun yang jelas klub berjuluk Mutiara Hitam sudah memiliki aspek legalitas yaitu PT Persipura Papua.

  1. Aspek Finansial

Finansial, klub berjuluk Mutiara Hitam selama mengikuti liga Indonesia maupun AFC Cup selalu mendapat sponsor dari pihak lain terutama Bank Papua dan PT Freeport Indonesia. Agaknya kedua perusahaan ini selalu menjadi sponsor utama PT Persipura Papua. Bahkan Ketua Umum Persipura mengungkapkan sudah mengajukan surat permohonan kerja sama kepada Presiden Direktur PT Freeport Indonesia dalam laga sepak bola Asia, AFC musim 2021.

Mantan Sekretaris Umum Persipura era sebelumnya, M Thamrin Sagala, dalam diskusi bertajuk Persipura Mutiara Hitam bersama Majalah Jubi beberapa waktu lalu menyebutkan selama kompetisi di Indonesia Super League (ISL) tim Mutiara Hitam selalu menekan defisit anggaran. Disebutkan pada musim 2010/2011 saat menjuarai ISL tim Persipura mengalami defisit anggaran sebesar Rp10 miliar, sementara musim 2011/2012 defisit berkurang menjadi Rp7 miliar.

Bagi Ketua Umum Persipura, prestasi yang ditorehkan tim berjuluk Mutiara Hitam ini membuat ada investor yang menarik menjadi sponsor Persipura, karena dinilai layak. Investor utama sampai saat ini jelas PT Bank Papua dan PT Persipura. Meski ada peluang sponsor lainnya seperti perusahaan jamu dari Jawa Tengah tetapi tak sebesar kedua sponsor tetap di atas.

Manajer Persipura kala itu, Rudy Maswi, pernah berujar bahwa untuk mengikuti musim kompetisi bisa mencapai Rp23 miliar per musim kompetisi saat itu. Tidak tahu musim 2021 sekarang ini sudah pasti melebihi dana sebelumnya.

Sebenarnya jika disimak sejak 2005 tim Mutiara HItam bisa membutuhkan dana sebesar Rp15 miliar sampai dengan Rp20 miliar. Namun sejak ILS 2008/2009 tim Mutiara Hitam sudah tidak lagi menggantungkan dirinya pada dana APBD Kota Jayapura. Mantan Ketua Umum Persipura Jayapura, MR Kambu, mengatakan bantuan PSSI dan sponsor lainnya berkisar antara 20 persen sehingga sisa 80 persen lainnya harus dicari sendiri.

Sekadar catatan, pada musim 2019-2020 lalu, sponsor utama Persipura dari PT Freeport dan PT Bank Papua dalam dua musim sekaligus. PT Bank Papua mengucurkan dana senilai RP20 miliar sedangkan PT Freeport Indonesia sebesar Rp15 miliar. Sejak 2012, perusahaan tambang tembaga, emas, dan perak tersebut total sudah mengeluarkan dana sebesar Rp65,8 miliar untuk Mutiara Hitam.

  1. Aspek Infrastruktur

Persipura sendiri belum memiliki stadion yang memadai sebagai kandang atau markas tetapi memakai Stadion Mandala Jayapura. Namun dalam rangka persiapan PON Papua 2021 sehingga terganggu dalam kompetisi musim lalu sehingga bermarkas di Stadion Klabat Manado.

Meskipun di Jayapura saat ini ada tiga stadion bertaraf internasional dan nasional, mulai dari Stadion Batnabas Youwe Sentani, Stadion Lukas Enembe di Kampung Harapan, dan Stadion Mandala Jayapura, faktanya Persipura belum memiliki stadion latihan dan juga mess bagi pemain Persipura. Selama ini para pemain tinggal di hotel berbintang empat selama kompetisi.

  1. Sumber Daya Manusia dan Administrasi

Persipura sudah memiliki susunan pengurus, baik dalam bentuk perusahaan maupun sebagai Ketua Umum dan Sekretaris Umum. Ada pula panitia pelaksana kompetisi dan juga media officer dari klub dalam setiap konferensi pers termasuk hubungan komunikasi.

  1. Sporting atau Pembinaan Usia Dini

Klub berjuluk Mutiara Hitam ini belum memiliki klub usia dini atau sekolah sepak bola. Pasalnya selama ini hampir sebagian besar pemain muda di Kota Jayapura merupakan produk SSB lokal di Papua maupun Jayapura. Sebut saja misalnya Todd Rivaldo Ferre merupakan pemain binaan SSB  Immanuel di Sentani hingga terpilih ke Pertaminan School di Jakarta dan kembali memperkuat Persipura U-19 hingga masuk ke Persipura.

Imanuel Wanggai dan Titus Bonay mengawali karier di Persupura U-15 dsn selanjutnya ke Persipura senior. Begitu pula dengan Nelson Alom dan Patrick Womsiwor yang mengawali karier mereka di SSB Emsyik hingga ke Persipura U-19 dan Persipura senior.

Berbeda dengan Boaz, Ricardo, dan Ian Kabes yang mengawali karier mereka di PPLP Papua dan klub amatir di Papua hingga masuk ke Persipura. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Related posts

Leave a Reply