PT BIA dinilai diskriminatif terhadap orang asli Papua

papua-karyawan-pt-bia-merauke
Karyawan yang bekerja di PT BIA di Distrik Ulilin, Kabupaten Merauke – Jubi/Frans L Kobun

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Merauke, JubiPT BIA, perusahaan perkebunan kelapa sawit di Distrik Ulilin, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua, selama ini dinilai diskriminatif terhadap para karyawan orang asli Papua (OAP). OAP lebih banyak yang bekerja sebagai buruh kasar di area kelapa sawit, sementara di kantor didominasi orang non-Papua.

“Saya tidak tahu alasan apa pihak perusahaan lebih banyak mendatangkan orang untuk bekerja di kantor, baik di bagian keuangan maupun divisi lain,” ujar Mama Victoria Iniwayob, salah seorang karyawan PT BIA, ketika ditemui Jubi, Jumat (5/11/2020) malam.

Read More

Sejauh ini yang diketahuinya, lanjut Victoria, hanya dua OAP yang bekerja di kantor.

“Selain saya, ada Fransiska Warenop. Sedangkan lainnya adalah orang-orang dari luar,” tegasnya.

Dikatakan, karyawan OAP di PT BIA lebih banyak bekerja sebagai buruh kasar di area perkebunan kelapa sawit. Padahal sebagiannya adalah pemilik ulayat dan mestinya harus diberikan prioritas untuk bekerja di kantor.

Dia mencontohkan suaminya juga pernah melamar untuk bekerja di kantor dengan melampirkan ijazah maupun surat dari Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Merauke, namun tak diterima perusahaan dengan alasan usia.

“Yang menjadi ketidakpuasan kami OAP adalah kenapa tenaga kerja dari luar didatangkan secara diam-diam bekerja di kantor? Ini kan namanya tidak adil,” tegas Mama Victoria.

Baca juga: Pemilik ulayat yang bekerja di PT BIA hanya pekerja kasar

Sementara, Humas PT BIA, Ervan, melalui ponselnya menjelaskan permintaan agar OAP bekerja di kantor bisa saja direalisasikan. Karena sudah ada studi banding oleh perusahaan kepada pemilik marga untuk pengelolaan manajemen. Bahkan, ketua koperasi juga pemilik marga.

“Dalam minggu ini juga ada pelatihan bagi OAP untuk peningkatan kemampuan, bekerjasama dengan Dinas Tenaga Kerja Merauke serta Marinir guna pembentukan mental agar mereka lebih kuat di lapangan. Jumlahnya sekitar 200-an orang dan pelatihan tersebut sudah berjalan untuk gelombang ketiga atau keempat,” katanya. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Related posts

Leave a Reply