
Papua No. 1 News Portal | Jubi
Jayapura, Jubi – Nico Dimo, anggota Komite Eksekutif (Exco) Asosiasi Provinsi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (Asprov PSSI) Papua, tidak sependapat dengan Sekjen PSSI Papua, Ratu Tisha Destria, yang bernafsu mendorong lima pemain profesional dari Liga 1 dan Liga 2 Indonesia, diperbolehkan tampil di Pekan Olahraga Nasional (PON).
Nico Dimo yang juga pengamat sepakbola menilai, di multievent nasional PON digelar empat tahun sekali, sedangkan liga kompetisi setiap tahun, sehingga biarlah PON dijadikan ajang pembinaan pesepakbola dari tiap daerah.
“Tentu hal ini kami menganggap baik, namun perlu kita ingatkan pada Sekjen PSSI, bahwa sepakbola yang dimainkan pada PON adalah dilaksanakan dalam empat tahun sekali, dimana skala prioritasnya kita inginkan menonjolkan hasil pembinaan yang dilakukan di daerah, ini yang perlu diaplikasikan dalam pesta empat tahun sekali ini,” kata Nico Dimo, kepada Jubi, Minggu (6/10/2019).
Mantan penjaga gawang Persipura ini memandang jika PSSI Pusat tetap saja memaksa kehendaknya serta orientasi keterlibatan pada pesta PON, khususnya sepakbola dengan melibatkan pemain dari klub profesional. Pertanyaannya, apa yang mau dikejar.
“Apakah tim juara karena tampilnya pemain profesional atau juara karena pembinaan yang baik yang mampu dimunculkan oleh tiap provinsi lewat pembinaan yang berkesinambungan di tiap klub amatir,” ujarnya
Menyimak fenomena ini, kata Nico Dimo, Asprov PSSI Papua berharap PSSI Pusat dapat menangkap aspirasi daerah untuk pelaksanaan sepakbola PON XX/2020 di Papua, tanpa diperkuat pemain profesional.
“Kami sudah putuskan tidak menggunakan pemain professional. Artinya jangan lagi ada wacana atau pikiran yang masih menginginkan keterlibatan pemain-pemain profesional di Pekan Olahraga Nasional (PON) Papua,” tegasnya.
Langkah ini bukan asal menjadi kehendak Asprov PSSI dan diputuskan tanpa alasan, namun mengingat PON gaungnya untuk mengukur hasil pembinaan di tiap Asprov PSSI.
“Maka dipandang perlu menolak kehadiran pemain profesional di sana,” katanya.
PSSI sendiri telah dua kali mengeluarkan regulasi soal pemain yang tampil di Prakualifikasi PON 2019 dan PON XX/2020.
Awal April, PSSI mengubah regulasi usia pemain menjadi di bawah 23 tahun atau kelahiran 1 Januari 1998. Kemudian pada 15 Mei 2019, PSSI kembali mengeluarkan regulasi, mengembalikan usia pemain ke aturan semula.
Perubahan ini dikirim melalui surat pemberitahuannya kepada seluruh Pengprov PSSI se-Indonesia, dengan Nomor: 16/PGD/310/V-2019 tentang ketentuan umum Pra PON 2019 dan PON 2020 revisi usia pemain sepakbola pria.
Regulasi atau batas usia pemain untuk Pra PON 2019 dan PON 2020 kedua itu dikeluarkan PSSI pada 15 Mei 2019 lalu, dan dikirim ke seluruh Asprov PSSI se-Indonesia.
Kepala Hubungan Media dan Promosi Digital PSSI, Gatot Widagdo, menyatakan PSSI menargetkan kualifikasi atau Pra-PON cabang sepakbola digelar November.
“November harus sudah jalan,” katanya. (*)
Editor: Dewi Wulandari






