
Jayapura, Jubi – Dinas Perhubungan Provinsi Papua mengklaim, Kepala Bandara Sentani sudah menyetujui adanya meja pengaduan di wilayahnya, khususnya untuk menangani harga tiket pesawat.
“Kami sudah bersurat ke Kepala Bandara Sentani, tapi sampai sekarang belum ada jawaban secara tertulis. Namun pada prinsipnya mereka setuju,” kata Kepala Dinas Perhubungan Papua Djuli Mambaya kepada wartawan, di Jayapura, Selasa (30/8/2016).
Menurut Djuli, pihak Bandara Sentani berencana akan memberikan satu ruangan khusus.
“Tapi saya pikir tidak usah ruangan, yang penting ada lahan di depan sehingga bisa bersentuhan langsung dengan masyarakat, kalau di dalam malah sulit,” ucapnya.
Meskipun meja pengaduan belum ada, ujar Djuli, pihaknya sudah memasang baliho/spanduk yang dilengkapi dengan nomor kontak pengaduan.
“Saya pikir sampai sekarang belum ada laporan mengenai tiket pesawat,” ucapnya lagi.
Ia menjelaskan, dibukanya meja pengaduan sebagai bentuk kontrol kepada penerbangan dan harga tiket yang mahal. Kedepan hal seperti ini akan terus dilakukan, selama slot time tidak bisa diatasi.
“Kami mengidentifikasi kenapa mahal karena orang banyak masuk di Papua. Apalagi dengan adanya program pak Presiden Joko Widodo terhadap Papua, sehingga sampai banyak sekali yang masuk ke Papua,” kata Djuli.
“Dengan demikian kami minta pihak operator untuk menambah frekuensi penerbangan yang masuk ke Papua, supaya bisa menjawab harga tiket tersebut,” sambungnya.
Dia menambahkan saat ini harga tiket pesawat sudah berangsur angsur normal.
“Kemarin saya dari Jakarta dapat harga normal, meskipun masih ada segelintir orang yang mengatakan tiket masih mahal. Tapi saya sudah pastikan kalau tiket sudah normal,” kata Djuli.
Eprahim, Warga Kotaraja, Kota Jayapura meminta pemerintah pusat memberikan hak yang sama terhadap masyarakatnya yang berada diujung timur Indonesia, salah satunya kesamaan memiliki dan merasakan tiket pesawat murah.
“Kami berhak mendapat harga tiket yang murah. Jangan sampai harga tiket dari Jayapura dan ke Jayapura sangat mahal, bahkan jika dibandingkan harga tiket ke luar negeri justru lebih mahal,” kata Eprahim. (*)