Petani beralih tanam teh dan kopi sebabkan industri jamu krisis bahan

harga lombok di kota jayapura, papua
Pedagang rempah-rempah di Pasar Phara Sentani - Jubi/Engel Wally

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jakarta, Jubi– Industri jamu nasional saat ini menghadapi krisis bahan baku, akibat banyak petani yang lebih memilih menanam kopi atau teh sebagai komoditi untuk diperdagangkan. Selama ini produsen jamu mengandalkan para petani rempah sebagai penyedia bahan baku.

Read More

“Jika ini berlanjut jangan sampai rempah kita malah dibudidayakan oleh negara tetangga kita,” kata pendiri Acaraki Jamu, Jony Yuwono, saat diskusi “Telusur Jalur Rempah: Melihat Pengaruhnya pada Kuliner Nusantara” secara daring, Selasa (10/8/2021) kemarin.

Baca juga : Sagu berpotensi selamatkan dunia dari ancaman kelaparan

Perajin batik Papua keluhkan ketersediaan bahan baku

Bangun rumah dari usaha bunga berbahan baku plastik

Jony mengungkapkan alasan banyaknya petani lebih memilih menanam kopi atau teh adalah karena permintaan atau penjualannya lebih konsisten dibandingkan rempah-rempah.

“Rempah-rempah permintaannya tidak konsisten dan tidak ada bagian penting,” kata Jony menambahkan.

Jony mengutip data Riset Tanaman Obat Dan Jamu di Indonesia (Ristoja) tahun 2012, menunjukkan dari 1.068 suku yang ada di Indonesia dan tercatat 15.773 resep jamu berasal dari 1.740 spesies tanaman yang berbeda.

“Jadi artinya 30 ribu tanaman obat di Indonesia adalah data base sumber obat atau sumber kesehatan untuk mencegah penyakit masa depan. Jadi tugas kita adalah untuk melestarikan,” kata Jony menjelaskan.

Ia menegaskan generasi saat ini harus ikut berpartisipasi untuk terus melestarikan jamu agar resep dari jamu-jamu yang telah menjadi obat turun temurun tidak menghilang. Data Ristoja pada Tahun 2015 menyatakan 49,5 persen dari pelaku pengobatan tradisional yang meresepkan jamu-jamu tersebut itu sudah berumur 60 tahun ke atas dan hanya sepertiga yang memiliki murid.

“Ketika pensiun, siapa yg akan mengolah? Jika tidak ada yang mengolah, bagaimana dengan resep jamu tersebut? Kalau resep itu hilang, bagaimana dengan budi daya terhadap tanaman-tanaman tersebut?” katanya.

Pakar kuliner William Wongso yang hadir dalam acara tersebut ikut menegaskan sudah saatnya Indonesia untuk lebih memperkenalkan rempah-rempah yang dimiliki melalui berbagai sektor.

“Sudah saatnya kita perlu mengenalkan rempah melalui prosedur, proses edukatif dari SMK, akademisi pariwisata, juru masak profesional. Bukan lagi cuma meminta lada atau pala. Harus tahu lada terbaik berasal dari mana, pala yang terbaik dari mana. Hal-hal ini kita harus kenal,” kata William.

Ia mengungkapkan Indonesia telah menjadi negara penghasil rempah yang sudah dikenal di berbagai negara dunia sejak zaman dahulu, hingga mendapatkan julukan negara Spices Island.

Rempah-rempah yang menjadi bagian dari bumbu sebagai keunikan Indonesia yang menjadi bagian dari budaya kuliner dan cerminan kearifan lokal yang berbeda antara satu pulau dengan pulau lainnya. (*)

Editor : Edi Faisol

 

Related posts