Papua No.1 News Portal | Jubi
Apia, Jubi – Ada tanggapan yang beragam di Samoa setelah pemerintah negara itu yang baru dengan resmi menghentikan kebijakan Waktu Musim Panas (WMP) atau Daylight Saving Time di negara itu.
Menanggapi keputusan itu, seorang petani perkebunan talas, Leilani Duffy-Iosefo, mengatakan itu produksinya akan berkuran. “Dengan satu jam tambahan dalam satu hari, kita dapat melakukan banyak hal, terutama jika kita memiliki perkebunan dan kita mempekerjakan buruh, itu berarti akan ada lebih banyak waktu bagi para pekerja untuk bekerja,” ungkapnya.
Disadur dari surat kabar Samoa Observer, mantan Perdana Menteri Tuila’epa Sa’ilele Malielegaoi memperkenalkan WMP 11 tahun yang lalu agar ada lebih banyak waktu dalam satu hari bagi masyarakat untuk merawat kebun, meningkatkan kesehatan masyarakat, dan agar mereka ada waktu luang.
Pemerintah Samoa saat ini sendiri belum memberikan alasan mengapa WMP ini dihentikan, itu hanya mengirimkan siaran pers yang mengimbau orang-orang di Samoa untuk “terus mengikuti jam yang normal seperti yang berlaku saat ini”, tidak menambah satu jam seperti yang umumnya dilakukan saat WMP.
Meski berdampak pada buruh perkebunan, warga lain puas kebijakan tersebut dibatalkan.
Seorang koki di Samoa, Dora Rossi, mengatakan bahwa tidak mengubah waktu itu berarti stafnya tidak harus bekerja sampai larut, “kami melayani tamu-tamu kami di luar restoran, tetapi panas di sore hari bisa jadi menyengat.” (
Editor: Kristianto Galuwo






