
Jayapura, Jubi – Menjelang hari raya Idul Fitri 1437 H, Ketua Fraksi Golkar DPR Papua, Ignasius W Mimin mengatakan, pelayanan publik di tempat-tempat tertetu semisal rumah sakit dan bandara harus tetap berlangsung.
Menurutnya, rumah sakit adalah tempat pelayanan publik yang paling penting. Dihari Idul Fitri, bukan berarti semua perawat di rumah sakit baik milik pemerintah maupun swasta harus libur.
“Di Papua kan mayoritas Nasrani. Jadi petugas kesehatan yang beragama Muslim libur dan yang beragama Nasrani yang bertugas. Jangan alasan libur Idul Fitri sehingga peramedis yang beragama Nasrani juga libur. Petugas di rumah sakit harus selalu siaga,” kata Mimin kepada Jubi, Senin (4/7/2016).
Katanya, hal itu tak hanya berlaku untuk para medis yang ada di semua rumah sakit di Kota Jayapura, namun juga rumah sakit di kabupaten lain di Papua.
“Jangan alasan libur. Kan tiga semua perawat Muslim. Jadi yang libur perawat beragama Muslim saja, yang Nasrani harus tetap kerja,” ucapnya.
Ia mengatakan, manajemen rumah sakit harus tegas terhadap para perawat dimasa libur Idul Fitri. Siapa paramedis yang diijinkan libur dan siapa yang tidak.
“Jangan sampai pasien terlantar. Termasuk dokter juga harus aktif. Jangan karena dokter sehingga semaunya. Kalau mau ijin harus ada ijin direktur dan alasannya jelas,” katanya.
Terpisah Jesica, salah satu perawat di rumah sakit swasta yang ada di Kota Jayapura mengatakan, kebijakan manajemen rumah sakit tempat ia bekerja, selama Idul Fitri, perawat beragama Nasrani tetap aktif seperti biasa.
“Yang libur hanya yang Muslim. Kami yang beragama Nasrani tetap aktif. Pelayanan di rumah sakit tetap jalan. Hanya pelayanan poli yang libur. Namun UGD tetap seperti biasa. Pelayanan poli hanya libur saat tanggal merah, 6 dan 7 Juli, setelah itu aktif seperti biasa,” kata Jesica. (*)