Papua No.1 News Portal | Jubi
Apia, Jubi – PBB telah mendesak pemimpin-pemimpin politik di Samoa untuk menyelesaikan krisis politik yang saat ini melanda negara itu dengan berdialog setelah hasil pemilu yang masih memulai sengketa ini berakhir dengan dua pemimpin di negara Pasifik Selatan itu. Keduanya percaya mereka masing-masing memiliki mandat untuk memimpin negara itu.
Pengajuan banding hari Selasa lalu (25/5/2021) terjadi sehari setelah polisi memboikot pintu gedung parlemen dari Perdana Menteri terpilih, Fiame Naomi Mata’afa, saat dia tiba dengan anggota partai FAST untuk membentuk pemerintahan yang baru dan mengambil sumpahnya sebagai pemimpin perempuan Samoa yang pertama.
Meski berbagai putusan MA telah mengabsahkan kepemimpinan Mata’afa, Perdana Menteri caretaker saat ini Tuilaepa Sailele Malielegaoi, yang telah memerintah Samoa selama 22 tahun, menolak untuk melepaskan kekuasaan.
Malielegaoi masih memiliki dukungan dari kepala negara Samoa, yang telah menangguhkan sidang perdana parlemen dan menggagalkan rencana untuk pengambilan sumpah pemerintahan baru.
Seorang juru bicara PBB mengatakan pada hari Selasa bahwa Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, mengikuti perkembangan di negara itu dengan cermat dan “siap untuk memberikan dukungan kepada Samoa jika diminta oleh kedua pihak.”
Guterres juga “mendesak para pemimpin di Samoa untuk mencari solusi atas situasi politiknya saat ini melalui dialog demi kepentingan terbaik rakyat dan lembaga-lembaga Samoa”, tambah juru bicara itu.
Sebuah negara kepulauan dengan populasi 220.000 orang, krisis di Samoa dimulai ketika hasil pemilu tanggal 9 April menghasilkan seri antara Partai FAST yang dipimpin Mata’afa dan Partai Perlindungan HAM (HRPP) dibawah Malielegaoi, dengan satu caleg independen memilih bergabung dengan FAST.
KPU lalu campur tangan, menunjuk satu kandidat HRPP sebagai MP, berdalih keputusan itu diambil untuk memenuhi kuota perwakilan perempuan, sementara caleg independen memilih untuk memihak FAST, mengubah komposisi parlemen antara FAST dan HRPP 26-26.
Kepala Negara Samoa, Tuimalealiifano Vaaletoa Sualauvi II, kemudian mengumumkan pemilu ulang pada 21 Mei.
Namun Mahkamah Agung Samoa membatalkan satu kursi parlemen tambahan untuk HRPP pasca-pemilu dan keputusan untuk pemilu ulang, memulihkan kemenangan ke pihak partai Mata’afa menjadi mayoritas 26-25. (Al Jazeera)
Editor: Kristianto Galuwo






