PBB curigai Korut mulai operasikan reaktor nuklir

Papua, Nuklir Atom
Ilustrasi, atom nuklir, pixabay.com

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Wina, Jubi – Laporan pengawas atom PBB menyebutkan Korea Utara diduga telah mengoperasikan sebuah reaktor yang selama ini dipercaya memproduksi plutonium untuk senjata nuklir. Meski Badan Energi Atom Internasional (IAEA) tidak memiliki akses ke Korut sejak Pyongyang mengusir para pengawasnya pada 2009. Namun lembaga itu menyebut Korea meneruskan program senjata nuklirnya dan segera melanjutkan pengujian nuklir.

Read More

Tercatat uji coba nuklir Korut terakhir dilakukan pada 2017 lalu. IAEA kini memantau Korut dari jauh, sebagian besar lewat citra satelit. “Tidak ada indikasi pengoperasian reaktor dari awal Desember 2018 hingga awal Juli 2021,” sebut laporan IAEA yang diterbitkan pada Jumat, (27/8/2021) pekan lalu.

Baca juga : Prancis tidak akan meminta maaf atas uji coba nuklir di Polinesia Prancis 

Israel nyatakan keberatan pembahasan kesepakatan nuklir AS – Iran 

AS harus meminta maaf kepada masyarakat Kepulauan Marshall untuk 60-an uji coba senjata nuklir

Reaktor yang disebutkan itu berkapasitas 5 megawatt (MW) di Yongbyon, sebuah kompleks yang menjadi pusat pengembangan nuklir Korut. “Namun, sejak awal Juli 2021, ada sejumlah indikasi, termasuk keluarnya air pendingin, yang sejalan dengan pengoperasian reaktor,” tulis laporan itu lebih lanjut.

IAEA menerbitkan laporan tahunan yang diunggah secara daring tanpa pengumuman, sebelum menggelar pertemuan dengan negara-negara anggotanya. Pada Juni IAEA mengatakan ada indikasi tentang kemungkinan pekerjaan pemrosesan ulang di Yongbyon untuk memisahkan plutonium dari bahan bakar reaktor bekas yang dapat digunakan dalam senjata nuklir.

Laporan itu mengatakan durasi pekerjaan yang terlihat dari pertengahan Februari hingga awal Juli menunjukkan adanya penanganan sekelompok penuh bahan bakar bekas. Durasi selama lima bulan itu kontras dengan waktu yang lebih singkat untuk mengolah limbah.

“Indikasi baru tentang pengoperasian reaktor 5MW(e) dan Laboratorium (Pengolahan Ulang) Radiokimia itu sangat meresahkan,” kata IAEA.

Ada indikasi dalam rentang waktu tertentu pabrik pengayaan uranium di Yongbyon tidak dioperasikan. Ada pula indikasi tentang aktivitas penambangan dan konsentrasi di tambang uranium dan pabrik di Pyongsan, sebut laporan itu. (*)

Editor : Edi Faisol

 

 

Related posts