Gusti Randa: Potensi keributan cabor gulat harus diredam

Papua-jumpa pers PGSI
Kepala Bidang Bimbingan Prestasi Persatuan Gulat Seluruh Indonesia (PGSI) Pusat, Gusti Randa, didampingi pengurus PGSI provinsi dan kabupaten, saat memberikan keterangan pers, Sabtu (9/10/2021) – Jubi/Frans L Kobun

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Merauke, Jubi – Kepala Bidang Bimbingan Prestasi Persatuan Gulat Seluruh Indonesia (PGSI) Pusat, Gusti Randa, minta potensi keributan di cabang olahraga (cabor) gulat PON XX Papua 2021 agar dapat diredam.

“Kita tahu bersama bahwa cabor gulat PON XX Papua dilaksanakan di Kabupaten Merauke dari 8-14 Oktober dan diikuti kurang lebih 100 pegulat. Olehnya, potensi yang berkaitan dengan keributan sebisa mungkin diredam,” pinta Gusti Randa saat konferensi pers di ruang media center PON XX, Sabtu (9/10/2021).

Read More

Dikatakan, sebelum pertandingan dilangsungkan, pihaknya telah melakukan koordinasi dan komunikasi bersama Kapolres Merauke, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Untung Sangaji, terkait pengamanan yang harus dilakukan meskipun telah ada SOP ditetapkan.

“Memang olahraga gulat agak spesifik, seperti di PON sebelumnya di Jawa Barat sempat terjadi keributan. Namun yang ribut itu bukan penonton, tetapi biasanya itu official serta pelatih,” ungkapnya.

Lebih lanjut dijelaskan, semua orang tahu kalau cabor gulat itu adalah kontak fisik. Lalu ketika pegulat sedang bertanding, silakan melancarkan aksi protes ketika ada kesalahan. Beda dengan pertandingan lain, dimana sebelum bertanding protes harus dilakukan.

Namun demikian, jelasnya, saat ada protes harus diselesaikan oleh wasit maupun dewan juri, sekaligus dilakukan pengecekan terhadap apa yang diprotes dengan menggunakan teknologi.

“Untuk olahraga gulat kan waktunya hanya enam menit, namun kalau banyak protes, waktunya bisa molor hingga 10 menit,” ujarnya.

Baca juga: Gulat PON Papua: Jatim boyong 2 emas, Kaltim 1 emas

Ketua PGSI Kabupaten Merauke, Yohanes Samkakai, mengakui kalau gulat belum terlalu familiar di kabupaten di wilayah selatan Papua itu, sehingga butuh waktu untuk diperkenalkan secara terus menerus ke berbagai kalangan.

“Kita juga berharap agar ke depan gulat menjadi cabor di Kabupaten Merauke yang harus terus ditingkatkan,” pintanya. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Related posts

Leave a Reply