Labirin, geliat seni rupa di Kota Pala

Labirin Papua
pameran seni rupa yang digelar di salah satu kafe di Fakfak - dokumentasi komunitas labirin

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Eksis sejak 2015 hingga kini. Jadi wadah kreativitas. Menghidupkan kesenian di tengah segala keterbatasan.

Raharusun bersaudara punya hobi menggambar. Mereka adalah Rio, Joy, dan Constatin Raharusun. Ingin berbuat lebih, mereka lalu mengumpulkan beberapa kawan yang punya hobi sama. Jadilah Komunitas Labirin.

Read More

Tak lama setelah berdiri pada Agustus 2015, komunitas ini langsung memberanikan diri menggelar pameran. Di Fakfak, Papua Barat tak ada galeri atau tempat yang layak untuk memamerkan karya seni. Tapi mereka tak patah semangat. Putar otak, sebuah gedung PKK kelurahan lantas disulap jadi ruang pamer.

Selain Raharusun bersaudara, penggagas lainnya adalah Ronal Fatubun, Hermanto Hindom. Lama kelamaan komunitas ini menggemuk. Meski awalnya menyasar kalangan pelajar, Labirin juga diikuti seniman yang lebih senior.

“Anggotanya, dari pelajar SMA sampai yang berusia 50 tahun,” ujar Contantin Raharusun (27), kepada Jubi lewat percakapan telepon.

Rata-rata anggota Labirin belajar otodidak. Di antara Raharusun bersaudara, hanya si bungsu Constantin yang menyandang sarjana seni rupa dari Universitas Sarjanawiyata Taman Siswa, Yogyakarta. Dia kini mengabdi sebagai guru honorer untuk mata pelajaran Seni Budaya di SMA Don Bosco Fakfak.

Sejak berdiri, komunitas Labirin telah menggelar tiga kali pameran. Selain di gedung kelurahan, pameran juga pernah dibikin di tempat terbuka, tepi pantai. Juga dengan memanfaatkan ruang kafe.

Labirin Papua
Cover buku cerita rakyat yang meraih juara kedua pada kompetisi yang digelar Cenderawasih Reading Center – dokumentasi komunitas Labirin

Tak hanya sekadar berpameran, Labirin juga menggandeng sejumlah komunitas literasi dan rumah baca di kota itu. Hasilnya, mereka membuat kumpulan cerita rakyat setempat, dilengkapi ilustrasi. Seni rupa dijadikan alat untuk mempelajari dan mengkritisi apa yang terjadi di Kota Pala itu.

Mereka pernah menggelar pameran terbuka di pantai Pasir Putih III, karya lukis dengan panel besar dipajang di areal obyek wisata itu, berisi pesan untuk menjaga kelestarian dan kebersihan pantai. Mereka juga menggelar aksi bersih-bersih pantai.

Joy Raharusun (34) menambahkan, lahirnya komunitas Labirin tak lepas dari kerinduan kegiatan-kegiatan kreatif yang pernah subur di kota tertua di Papua Barat itu.

“Dulu di era 90an, setiap tahun ada kegiatan seni yang bisa dikuti anak-anak, suasana seperti itu yang ingin kami hidupkan kembali.” kata dia.

Seperti adiknya, Joy yang berijazah sarjana teknik mesin ini juga menjadi guru kesenian di SMP Don Bosco.

“Ini panggilan hati, karena tidak banyak sarjana seni di sini,” ujarnya.

Meski fokus di seni rupa, namun Labirin memerdekakan para anggotanya untuk memilih. Sesuai minat masing-masing.

Misalnya ada ana, ketika SMP dikenal bandel. Tapi ketika beranjak SMA, dia menemukan bakatnya di bidang tarik suara. Itu setelah dia bergaul dan bergabung dengan komunitas Labirin.

“Dia punya suara bass yang khas. Kini aktif di paduan suara gereja,” ujarnya.

Anggota yang punya minat menulis, diarahkan untuk menuliskan kembali cerita rakyat setempat yang yang dihimpun. Cerita itu lalu diberi ilustrasi gambar.

Tahun lalu, kumpulan buku cerita rakyat karya komunitas Labirin, meraih juara kedua pada kompetisi yang digelar Cenderawasih Reading Center (CRC).

Labirin Papua
Kelas menggambar di Rumah Baca Kihkiha Kampung Wayati. Dua pekan sekali, sejak 2019 – sekarang – dokumentasi komunitas labirin

Sejauh ini, komunitas Labirin menghidupi kegiatannya secara mandiri. Para anggota menyisihkan dana pribadinya untuk komunitas. Mereka mengaku tak berharap banyak pada uluran tangan pemerintah kabupaten yang terletak di kepala burung pulau Papua itu. Terbatasnya bahan material, juga bukan alasan bagi mereka untuk berhenti berkarya.

“Karena kain kanvas untuk melukis tidak ada, jadi kami pakai kain blacu, bahkan tak sedikit seniman yang menggambar di atas tripleks,” ujar Constantin.

Dalam waktu dekat ini, komunitas Labirin akan menggelar melukis bersama anak anak. Kali ini mereka bekerja sama dengan Kelompok Kelomang Brongkendik dan organisasi Conservation International (CI), mengampanyekan pelestarian mangrove di Brongkendik, Fakfak.

“Lewat gambar, kami ingin menumbuhkan kesadaran lingkungan, menggambar dan melakukan hal-hal kreatif, punya manfaat yang baik pada tumbuh kembang anak,” tutup Joy. (*)

Editor: Angela Flassy

Related posts

Leave a Reply