Papua No. 1 News Portal | Jubi
Jayapura, Jubi – Kepala Dinas Sosial Kabupaten Puncak, Paniel Wakerkwa mengabarkan sejumlah kontak tembak antara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat atau TPNPB dan pasukan TNI/Polri kembali terjadi di Kabupaten Puncak, Papua, sejak Minggu (15/8/2021). Akibatnya, warga Distrik Ilaga Utara dan Gome Utara kembali mengungsi.
“Warga sipil yang telah pulang dari pengungsian pada bulan Juni dan Juli lalu kembali mengungsi pada Minggu dan Jumat hari ini. Sebagian warga Kampung Mayuberi mengungsi ke hutan, dan sebagian masuk ke posko induk. Warga yang berdomisili di Distrik Gome Utara kembali [mengungsi] ke Posko Induk di Ilaga, [di] Kampung Kago,” kata Wakerkwa saat dihubungi melalui panggilan telepon pada Jumat (20/8/2021).
Wakerkwa menyatakan eskalasi kontak tembak antara TPNPB dan TNI/Polri terjadi di Kabupaten Puncak sejak Minggu. Pada Kamis (19/8/2021) pukul 03.00 WP, terjadi kontak tembak di Mundidok. Sejumlah pihak melaporkan pasukan TNI/Polri mengejar anggota TPNPB hingga ke Kampung Mundidok, dan membakar honai/rumah tradisional warga di sana.
Baca juga: Pemkab Puncak belum punya mekanisme pulangkan pengungsi
Wakerkwa menjelaskan insiden pada Kamis dini hari itu membuat warga yang mengungsi semakin bertambah. “Warga yang sudah kembali ke kampung halamannya di Distrik Gome Utara pada Juni dan Juli kini mengungsi lagi ke Ilaga, ibu kota Kabupaten Puncak,” ujarnya.
Wakerkwa menyatakan insiden kontak tembak dan pembakaran honai di Mundidok membuat sejumlah warga kehilangan tempat tinggal. Akan tetapi, ia menyatakan belum mengetahui jumlah honai warga yang dibakar. Wakerkwa juga belum bisa memastikan ada tidaknya korban jiwa dalam insiden pada Kamis dini hari itu.
“Kami tidak tahu apakah ada korban jiwa dalam insiden ini atau tidak. Kami belum mendapatkan informasinya. Berdasarkan informasi yang kami dapatkan, seorang anggota TPNPB terkena tembakan di tangan, terluka. Ia masih hidup dan sedang menjalani perawatan di Ilaga. Senjata yang dipegangnya telah diambil oleh TNI/Polri,” kata Wakerkwa.
Baca juga: Meski tak bisa beri jaminan keamanan, Bupati Puncak minta pengungsi pulang
Menurut Wakerkwa, hingga Jumat pasukan TNI/Polri masih menduduki dan berjaga-jaga di Kampung Mundidok, sehingga warga takut pulang ke kampungnya. “Jadi masyarakat Gome Utara yang rumahnya dibakar kembali mengungsi di tengah kota [Ilaga]. Sebagian masyarakat mengungsi ke hutan belantara untuk menyelamatkan diri,” katanya.
Wakerkwa mengatakan ia belum bisa mendata berapa jumlah warga yang kini mengungsi ke Ilaga, karena para pengungsi itu terpencar-pencar. Ia menyatakan pihaknya juga kesulitan mendatangkan bantuan bahan makanan bagi para pengungsi itu. Wakerkwa telah berkoordinasi dengan Bupati Puncak untuk melaporkan hal itu, namun belum ada tindak lanjut atas laporannya itu.
“Kalau mereka kumpul di posko induk yang letaknya di ibu kota kabupaten, kami akan mendata masyarakat yang mengungsi kedua kalinya. Saya sudah mengusulkan kepada Bupati agar mengirim bahan makanan untuk pengungsi. Tetapi belum ada konfirmasi dari Bupati. Kami masih menunggu bantuan bahan makanan tersebut,” katanya.
Baca juga: Ketua DPRD Puncak berharap pemerintah bisa pulangkan pengungsi
Wakerkwa mengatakan pihaknya belum bisa memperkirakan sampai kapan warga mengungsi, karena situasi di Ilaga Utara dan Gome Utara memang belum aman. Selain itu, masih banyak warga Kabupaten Puncak yang mengungsi ke kabupaten tetangga seperti Mimika dan Nabire, karena Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) pada masa pandemi COVID-19. Pemerintah Kabupaten Puncak mensyaratkan orang dari luar wilayahnya hanya bisa berkunjung jika telah mengikuti vaksinasi COVID-19.
“Masyarakat yang mengungsi di Timika dan Nabire berencana mau kembali. Tetapi karena kondisi Puncak yang belum kondusif, mereka memilih untuk tinggal di tempat pengungsian di kota-kota. [Juga] karena alasan vaksin, alasan urus surat kesehatan, dan lain-lain, sehingga masyarakat yang mengungsi tidak bisa kembali ke Kabupaten Puncak,” katanya.
Pandemi COVID-19 juga membuat pengungsi kehilangan layanan kesehatan, karena mereka takut pergi ke rumah sakit. “Mereka khawatir terpapar COVID-19. Dinas Kesehatan terus melakukan pendekatan [agar pengungsi] tetap mengikuti protokol kesehatan,” katanya.
Baca juga: Dinkes Puncak terus sosialisasikan manfaat vaksinasi COVID-19
Kegiatan di sebagian besar sekolah di Kabupaten Puncak telah terhenti sejak April. Siswa SMP di Ilaga kembali bersekolah sejak dua pekan lalu. Akan tetapi, para siswa SD di daerah konflik seperi Mayuberi, Tagaloa, Tobenggi, Pinapa Kundugura, Inggal, Gome, Giburom tidak bisa bersekolah, karena kegiatan belajar mengajar di sana lumpuh total.
Ketua Tim Peduli Kemanusiaan Kabupaten Puncak di Timika, Yunias Kulla mengatakan pada 28 Juli 2021 lalu pihaknya berkunjung ke Ilaga, dan mengantar bantuan bahan makanan bagi pengungsi. Kini pihaknya tengah mengumpulkan bahan makanan untuk disalurkan ke Distrik Beoga, Kabupaten Puncak. “Bantuan bahan makanan yang terkumpul minggu ini akan dikirimkan ke Distrik Beoga,” katanya.
Ia menyatakan bantuan bahan makanan itu rencananya akan dibagikan bagi para warga Kampung Dambet dan Tinggilbet di Beoga. “Kedua kampung itu terkena dampak peperangan antara TNI/Polri dan TPNPB,”katanya.
Baca juga: DPRD minta rencana vaksinasi COVID-19 di Puncak dibahas bersama dulu
Kulla mengatakan pihaknya akan terus memantau kondisi para pengungsi di Kabupaten Puncak. “Berdasarkan pantauan saya di lapangan, 65 persen pengungsi sudah balik ke distrik masing-masing. Yang lain masih ada di Ilaga. Mereka yang tinggal beralasan masih trauma,” ujar Kulla.
Anggota TPNPB di Kabupaten Puncak, Numbuk Telenggen membenarkan pihaknya terlibat kontak tembak dengan pasukan TNI/Polri sejak Minggu. Menurutnya, TPNPB terus menyerang pasukan TNI/Polri, sesuai perintah Komandan Operasi TPNPB, Lekagak Telenggen. “Kami melakukan penembakan karena kami berjuang untuk usir Indonesia dari Tanah Papua. Kami pemilik negeri, [namun] rakyat kami di pengungsian mati dan diperlakukan seperti binatang,” kata Numbuk Telenggen. (*)
Editor: Aryo Wisanggeni G
