
Papua No. 1 News Portal | Jubi
Jayapura, Jubi – Bank Sampah Jayapura (BSJ) milik Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLKH) Kota Jayapura yang beroperasi sejak 2016 membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Tercatat, hingga November 2019 jumlah nasabah sudah mencapai 900 orang baik perorangan maupun kelompok. Nasabah ini mengumpulkan, memilah dan menjual sampahnya ke BSJ.
“Kami memiliki 19 unit bank sampah, didalamnya beranggotakan 10-15 orang. Setiap tahun saya bisa menambah 3-4 unit bank sampah. Begitu juga dengan nasabahnya, setiap tahun tumbuh lima persen atau 40-45 orang,” ujar penanggungjawab Bank Sampah Jayapura, Frengky Nelson Numbery di Kantor Wali Kota Jayapura, Rabu (20/11/19).
Numbery belum bisa merinci total rupiah yang dikumpulkan sejumlah nasabah tersebut. Ia mencontohkan salah satu nasabah, selama dua tahun menabung dari penjualan sampah bisa mendapatkan Rp 4 juta.
“Nanti akhir tahun baru kami tutup buku sehingga kami bisa tau berapa jumlah nasabah dan sampah yang terkelola. Semua penjulan sampah dari nasabah sebanyak 90 persen dikembalikan ke nasabah,” ujar Numbery.
Menurut Numbery, yang mendorong warga untuk menjadi nasabah di bank sampah karena kepedulian terhadap kebersihan lingkungan. Selain itu, dari sisi ekonomi juga bisa membantu warga.
“Total ada 20 item sampah yang bisa dijual tapi yang memiliki potensi besar, yaitu aluminium, kertas, dan plastik. Kalau harganya aluminium 10 ribu rupiah per kilogram, kertas 250 rupiah per kilogram,” jelas Numbery.
Numbery berikan apresiasi kepada warga khususnya nasabah di bank sampah karena membantu Pemerintah Kota (Pemkot) Jayapura dalam menjaga kebersihan.
Salah satu nasabah Bank Sampah Jayapura, Agustina mengatakan dalam setahun ia bisa mendapat omzet Rp 2 juta dari total penjualan sampah.
“Saya baru dua tahun menjadi nasabah di bank sampah. Puji Tuhan bisa menambah kebutuhan perekonomian apalagi kalau Natal, sangat membantu,” ujar Agustina.
Agustina mengatakan hasil penjualan sampah tak diberikan dalam bentuk tunai namun diwujudkan dalam bentuk tabungan.
“Pada awalnya saya hanya buang saja sampah tapi setelah mendapat sosialisasi dari pemerintah kalau sampah bisa dijual maka sampah yang tadinya saya buang saya pilah kemudian saya antar ke bank sampah untuk dijual,” jelas Agustina. (*)
Editor: Edho Sinaga






