Papua No.1 News Portal | Jubi
Siswa harus berjalan kaki sejauh 3 kilometer saban hari. Mereka merindukan kehadiran sekolah di kampung.
PENDIDIKAN dasar masih menjadi barang mewah bagi warga Kampung Simbokeri. Mereka harus berjalan kaki sejauh 3 kilometer setiap hari ke kampung Yaur demi menikmati layanan pendidikan. Hanya itu satu-satunya sekolah dasar terdekat dari Simbokeri.
Simbokeri merupakan salah satu kampung terjauh di Kabupaten Nabire. Wilayah mereka berbatasan dengan Kabupaten Kaimana, Papua Barat. Butuh waktu sekitar lima jam perjalanan dengan kendaraan roda empat untuk menjangkau Simbokeri dari Kota Nabire.
Kerinduan warga akan layanan pendidikan kian tidak terbendung. Pemuka masyarakat setempat pun mengutarakan harapan mereka kepada Pengurus Sekolah Wilayah Yayasan Pendidikan Kristen (YPK) Nabire.
“Kepala suku melalui pihak GKI (Gereja Kristen Injili) meminta kehadiran kami. Mereka rindu akan pembangunan pendidikan,” kata Ketua Pengurus Sekolah Wilayah YPK Nabire Barnabas Watofa, Jumat pekan lalu.
Simbokeri berada di Lembah Jago dan dihuni sekitar 30 keluarga. Lokasi perkampungnya di balik perbukitan Kampung Yaur. Penduduk Simbokeri merupakan warga Yaur yang bermigrasi untuk bercocok tanam pada belasan tahun silam.
Pihak YPK Nabire bersama Wakil Ketua GKI Klasis Nabire Pendeta Essau Wospakrik mengunjungi Simbokeri pada dua pekan lalu. Mereka meninjau kesiapan pembukaan layanan pendidikan dasar di sana.
“Kami meminta warga memfungsikan bekas kamp proyek pengerjaan jalan. Bangunannya tingal disekat (untuk dijadikan ruang kelas),” kata Watofa.
Merintis sekolah
YPK Nabire juga menerima permohonan serupa dari Kampung Kewo, Distrik Kaimana Timur, Kabupaten Kaimana. Para pemuka dan pemerintah kampung setempat meminta mereka membuka layanan pendidikan di sana.
Wilayah Kewo berbatasan dengan Kabupaten Nabire. Jaraknya juga lebih dekat dengan Kota Nabire ketimbang Kaimana.
Warga Kewo harus berjalan kaki selama sepekan jika hendak ke Kaimana karena belum ada moda transportasi darat untuk rute tersebut. Alternatif lain ialah menumpang pesawat, setelah menempuh perjalanan darat sekitar lima jam ke Kota Nabire.
Pemerintah sebenarnya telah membangun gedung sekolah dasar di Kewo, yang berpenduduk sekitar 75 keluarga tersebut. Ada sebanyak tiga ruang kelas dan satu ruangan guru dibangun pada sekitar tiga lalu, tetapi belum juga difungsikan.
“Gedung sekolah tersebut harus difungsikan. Kami telah menghubungi YPK Kaimana dan mereka juga telah berkoodinasi dengan Pemkab (Pemerintah Kabupaten) Kaimana supaya sekolah segera dibuka,” jelas Watofa.
Dia mengatakan pelayanan pendidikan mereka tidak dibatasi oleh wilayah administratif pemerintahan. Jadi, bisa saja nanti YPK Nabire yang bergerak di Kewo.
“Kami hanya ingin merintis kegiatan pendidikan di sana. Setelah sekolah itu berjalan baik, silahkan Pemkab atau YPK Kaimana mengambilalih (melanjutkannya),” lanjut Watofa.
YPK Nabire berencana menyiapkan tenaga pengajar untuk ditempatkan di Kewo. Mereka akan merekrut guru honorer dari Kampung Yaur yang selama ini mengajar di Wanggar.
Respon dari Kaimana
Pembangunan pendidikan sangat diidamkan oleh warga Kewo. Mereka selama ini harus menempuh perjalanan jauh ke ibukota distrik untuk bersekolah.
“Kami harus jauh berjalan kaki saat mengantar makanan (bekal) untuk anak yang bersekolah di ibukota distrik. Karena itu, saya senang saat YPK Nabire mau mengaktifkan sekolah di sini,” kata Oktofianus Abunasi, Guru Jemaat GKI Solagrasia Kampung Kewo.
Niat baik YPK Nabire juga disambut dengan tangan terbuka oleh sejawat mereka di Kaimana. Pihak Pengurus Sekolah Wilayah YPK Kaimana mempersilahkan mereka membuka layanan pendidikan di Kewo.
“Saya sudah berkoordinasi bersama dinas pendidikan, tetapi diarahkan bertemu langsung dengan bupati. Silahkan YPK Nabire jalan dahulu sembari kami mengupayakan bertemu bupati,” kata Ketua Pengurus Sekolah Wilayah YPK Kaimana Klemens Kmur, saat dihubungi Koran Jubi, pekan lalu.
Kmur pun mempersilahkan Pemkab Kaimana mengambil alih kembali tanggung jawab tersebut jika sekolah telah berjalan dengan baik. Mereka tinggal berkoordinasi dengan pihak YPK Nabire.
“Kami (sebenarnya juga) mau meningkatkan pelayanan (di Kewo), tetapi terkendala transportasi. Dari Kaimana ke Kowe harus melalui Nabire, tetapi tidak ada pesawat untuk ke sana,” ujarnya. (*)
Editor: Aries Munandar






