Papua No. 1 News Portal | Jubi
Jakarta, Jubi – Video yang menunjukkan empat anak buah kapal warga negara Indonesia disiksa di kapal China beredar di media sosial. Dalam tayangannya empat WNI yang berada di kapal itu meminta pertolongan dengan teriakan yang menyayat.
“Diduga perbudakan crew Indonesia di kapal ‘Long Line’ China. Operasi Samudera Pasifik,” tulis akun Instagram @indonesia.militer, Selasa (25/8/2020) kemarin.
Akun itu mengungkapkan empat nama ABK WNI tersebut yakni Sukarto, Irgi Putra, Putra A. Napitupulu, dan Galih Ginanjar. Dalam akun itu bahwa empat ABK WNI kerap mendapat perlakuan tidak senonoh selama bekerja seperti tidak digaji dan penyiksaan fisik. Selain itu, jam kerja mereka kata akun tersebut tidak manusiawi, harus bekerja 20 jam dalam sehari, lalu makanan juga tidak memadai. Bahkan dalam satu hari WNI tersebut bisa tidak diberikan makan.
Baca juga : Ratusan WNI di luar negeri terjangkit Covid-19
Takut terpapar corona, warga tinggalkan Kota Ranai
Kapal China masih bertahan menangkap ikan di perairan Natuna
Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia dari Kementerian Luar Negeri, Judha Nugraha mengatakan telah menerima informasi berupa video mengenai empat ABK tersebut. Ia akan melakukan empat langkah penanganan.
“Pertama menghubungi nomor telepon PT RCA sebagaimana nama perusahaan yang tercantum dalam video tersebut, namun hingga saat ini belum ada tanggapan,” kata Judha.
Kemlu juga telah berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan dan Kementerian Ketenagakerjaan yang memiliki wewenang mengeluarkan perizinan penempatan ABK ke luar negeri.
“Didapat informasi bahwa PT RCA tidak terdaftar baik di Kemenaker atau Kemenhub,” kata Judha menambahkan.
Koordinasi juga sedang diupayakan kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Beijing. Hal itu dilakukan guna meminta informasi dari otoritas China pada kapal tersebut. “Berdasarkan data IMO, kapal Liao Yuan Yu 103 dimiliki oleh Lianoing Kimliner Ocean di Dalian, Liaoning China,” katanya.
Hingga kini, Judha juga mengaku sedang berupaya menghubungi pihak pertama yang mengunggah video tersebut ke media sosial untuk mendapatkan informasi lebih rinci. (*)
CNN Indonesia
Editor : Edi Faisol