“Bakteri kitinolitik yang ada di UB Forest lebih aktif dibanding dari perairan, sehingga lebih aplikatif apabila diimplementasikan di bidang pertanian,”
Papua No. 1 News Portal | Jubi
Malang, Jubi – Tiga mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur, mengembangkan bakteri yang mampu menghambat patogen Colletotrichum capsici sekaligus sebagai penyelamat mengatasi jamur pada cabai rawit.
Cindy Diah Ayu Fitriana, Nava Karina, dan Achmad Roekhan mampu mengembangkan bakteri kitinolotik UB Forest yang memiliki kemampuan cepat dan tepat dalam menghambat perkembangbiakan jamur patogen Colletotrichum capsici penyebab antraknosa.
“Bakteri kitinolitik yang ada di UB Forest lebih aktif dibanding dari perairan, sehingga lebih aplikatif apabila diimplementasikan di bidang pertanian,” kata salah satu anggota tim, Achmad Roekhan, Jumat, (16/8/2019).
Baca juga : Seribuan mahasiswa Mimika mendapat beasiswa pendidikan
Ekspedisi Mapala UI temukan gua tersembunyi di Pegunungan Arfak
Mahasiswa dapat pembekalan tentang obat dan makanan
Achmad Roekhan menyebut biasanya bakteri kitinolitik itu ditemukan di perairan. Dari 78 bakteri yang ada di UB Forest, 76 diantaranya adalah bakteri kitinolitik. Di sisi lain lalu cabai rawit menjadi komoditas hortikultura penyumbang inflasi karena banyak yang terkena serangan penyakit antraknosa atausering oleh jamur patogen Colletotrichum capsici.
“Penyakit antraknosa pada cabai rawit mampu menurunkan produksi sebesar 50 hingga 90 persen per hektare,” kata Roekhan menambahkan.
Pengendalian penyakit oleh petani dengan fungisida cenderung belum efektif dan menimbulkan dampak serius terhadap lingkungan dan kesehatan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh tim, kata Achmad, bakteri kitinolitik UB Forest memiliki kemampuan menghambat jamur Colletotrichum capsici penyebab antraknosa dengan persentase penghambatan hingga 100 persen.
Keunggulan bakteri kitinolitik dalam mengatasi penyakit antraknosa lebih efektif dibandingkan fungisida, karena bakteri kitinolitik memiliki kemampuan yang cepat dalam melisis dinding sel patogen yang komponen utamanya berupa kitin sebesar 22-40 persen.
“Pemanfaatan bakteri kitinolitik UB Forest sebagai mikroba antagonis yang berperan sebagai green technology berbasis agens hayati perlu dikembangkan,” kata Roekhan menjelaskan.
Ia erharap bakteri anti jamur itu dapat menjadi solusi dalam mengatasi permasalahan antraknosa serta mendukung implementasi pertanian yang berkelanjutan. (*)
Editor : Edi Faisol
