Lebanon waspadai risiko krisis pangan

Sekitar 70 persen kebutuhan pangan di Tanah Papua masih didatangkan dari luar daerah - Jubi/Ramah
Ilustrasi kebutuhan pangan di Tanah Papua – Jubi/Ramah

Lebanon menyaksikan demonstrasi akibat kelaparan yang pertama kali terjadi.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Read More

Beirut, Jubi – Lebanon menghadapi risiko krisis pangan saat banyak masyarakat dalam waktu dekat kemungkinan kesulitan membeli roti karena kondisi keuangan yang buruk serta dampak pandemi Covid-19.  “Sekali Lebanon, negeri produsen makanan untuk kawasan Mediterania Timur, menghadapi kesulitan luar biasa yang tidak tampak terbayangkan pada satu dekade silam: risiko krisis pangan besar,” kata Perdana Menteri Hassan Diab, dalam tulisannya di Washington Post.

Ia menyebut beberapa pekan lalu, Lebanon menyaksikan demonstrasi akibat kelaparan yang pertama kali terjadi.

“Banyak warga Lebanon telah berhenti membeli daging, buah, dan sayuran, dan mungkin akan segera kesulitan untuk sekadar membeli roti,” tulis Diab lebih lanjut.

Baca juga : Kebijakan kontrol pangan di Venezuela, harga telur melebihi gaji sebulan

PBB Soroti Keamanan Pangan Pada Hari Kesehatan Dunia

Pasokan pangan di Meksiko terhambat keamanan

Dalam tulisannya Diab juga memperingatkan tentang keadaan darurat ketahanan pangan global yang dipicu krisis Covid-19. Dia menyebut upaya untuk membatasi ekspor makanan harus ditolak dan menyeru kepada Amerika Serikat serta Uni Eropa agar menyiapkan dana darurat untuk membantu negara kawasan Timur Tengah menghindari krisis yang parah.

Jika tidak, dia menulis kelaparan mungkin akan memicu arus migrasi ke Eropa yang kemudian bisa memunculkan ketidakstabilan di kawasan.

Lebanon sudah mengalami krisis bahkan sebelum muncul pandemi. Nilai mata uang negara itu merosot hingga lebih dari setengah sejak Oktober tahun lalu di tengah kekurangan likuiditas mata uang; inflasi dan pengangguran juga melonjak. Negara itu bahkan mengalami gagal bayar nasional pada Maret lalu.

Sejak awal 2020, harga pangan impor di Lebanon naik dua kali lipat, tulis Diab. Sementara lebih dari setengah pasokan pangan di negara itu adalah hasil impor. Sebanyak 80 persen stok gandum Lebanon dipasok dari Ukraina dan Rusia, namun bulan lalu Rusia menangguhkan ekspor gandum, sedangkan Ukraina juga tengah mempertimbangkan langkah serupa.

Diab, yang menjabat mulai awal tahun ini dengan dukungan dari Hizbullah–kelompok politik Syiah yang disokong Iran–serta sekutunya, juga menyalahkan kesalahan penanganan urusan politik selama beberapa dekade ke belakang dan korupsi atas kurangnya investasi pada pertanian. (*)

Editor : Edi Faisol

Related posts

Leave a Reply