Papua No.1 News Portal | Jubi
Suva, Jubi – Komisioner HAM Fiji mengecam komentar seorang anggota parlemen (MP) Oposisi mengenai perayaan Diwali umat Hindu di Fiji tahun ini.
Negara itu akan merayakan ‘Festival Cahaya’ akhir pekan ini, dengan hari Senin ditetapkan sebagai hari libur nasional untuk menandai perayaan tersebut.
MP Lynda Tabuya dari Partai Sodelpa, dalam posnya di Facebook yang sekarang sudah dihapus, mengatakan Diwali tidak boleh dirayakan pada hari Minggu karena ini adalah hari istirahat bagi umat Kristiani.
Namun dari Komnas HAM dan Anti-Diskriminasi, Ashwin Raj menegaskan komentar Tabuya itu “sempit”.
Raj mengatakan “pernyataan tidak bertanggung jawab” itu telah memolitikkan festival keagamaan yang sudah dirayakan selama 140 tahun terakhir, bukan hanya oleh umat Hindu, tetapi oleh orang-orang dari berbagai agama di Fiji.
Raj mengatakan komentar MP itu adalah sebuah celaan terhadap toleransi agama dan budaya. Ia juga berkata dia semakin sering melihat perilaku intoleransi yang menargetkan orang-orang dari berbagai agama. Raj menegaskan bahwa Konstitusi Fiji melindungi kebebasan beragama.
Sejak itu MP Tabuya telah menerbitkan permintaan maaf atas komentarnya.
Sementara itu Gereja Metodis juga sempat merilis pernyataan serupa dimana mereka mengungkapkan bahwa mereka berharap ada diskusi yang dilakukan sebelumnya tentang perayaan Diwali. Gereja itu mengatakan pesta kembang api pada hari Minggu akan mengganggu ibadah keagamaan lainnya.
Pos tersebut juga telah dihapus dari Facebook.
Organisasi umat Hindu di FIji, Sanatan Dharam Pratinidhi Sabha, mengatakan bahwa mereka akan berhati-hati agar tidak mengganggu kelompok agama lain di Fiji.
Presidennya, Vigyan Sharma menerangkan bahwa Diwali jatuh pada hari Minggu tahun ini, menurut kalender agama Hindu. Diwali dirayakan selama Amavasya, yang dimulai pada pukul 8.40 malam pada Sabtu dan berakhir pada pukul 5 sore pada hari Minggu.
Sharma mengatakan umat Hindu merayakan Diwali pada malam yang paling gelap, dimana orang-orang menyalakan diyas, lilin dan lampu untuk menunjukkan “menangnya terang atas kegelapan, dan kebaikan atas kejahatan.” (RNZI)
Editor: Kristianto Galuwo






