Papua No.1 News Portal | Jubi
Analisis oleh Ena Manuireva
Jumlah korban mati akibat Covid-19 di Mā’ohi Nui (Polinesia ‘Prancis’) yang meningkat tajam telah memicu perdebatan yang sengit dengan Anggota Parlemen (MP) partai pro-kemerdekaan, Élaine Tevahitua, yang menuduh Presiden Édouard Fritch tidak cakap dalam menangani krisis ini.
Semua kepulauan di wilayah Polinesia itu kini telah dilanda Covid-19 yang tidak terkendali – bahkan pulau yang paling terisolasi, Mangareva – sejak perbatasan internasional dibuka empat bulan lalu.
Korban fatal baru lainnya dari Covid-19 telah dilaporkan di satu-satunya rumah sakit Tahiti, Ta’aone, sehingga total korban yang meninggal dunia menjadi 62, dengan 162 infeksi baru dalam 24 jam terakhir.
Ini menaikkan jumlah orang yang terkena virus itu sejak pertama kali terdeteksi pada 13 Maret menjadi hampir 13.000 jiwa.
Saat ini 85 pasien sedang dirawat di rumah sakit, termasuk 24 di Instalasi Rawat Intensif (ICU) yang biasanya dirawat di rumah sakit hingga tiga minggu. Periode rawat inap yang berkepanjangan ini menyebabkan menambah tekanan pada jumlah tempat tidur yang tersedia di RS karena kasus Covid-19 terus tak kunjung reda. Jika ini terus berlanjut, kemungkinan akan ada lebih dari 100 kematian pada akhir tahun ini.
Surat terbuka kepada Presiden Mā’ohi Nui di Tahiti
Pekan lalu, partai pro-kemerdekaan, Tavini Huiraatira, menyurati Presiden Polinesia ‘Prancis’ secara terbuka, mengutip statistik tentang “penanganan Covid-19 yang baik”.
Surat tersebut menjabarkan contoh negara yang harus diikuti seperti Fiji, Maladewa, Kaledonia Baru, dan Samoa, mulai dari negara dengan jumlah kematian kecil hingga dimana tidak ada kasus sama sekali, menolak “jumlah kematian yang luar biasa tinggi” di bawah kepemimpinan Presiden Fritch.
Perdebatan mengenai data itu lalu diikuti dengan tanggapan Presiden Fritch mengenai “cerita sepihak” oleh oposisi dan mengecam bahwa data tentang dampak Covid-19 pada ekonomi dari negara-negara pulau tersebut tidak ada yang diberikan.
Fritch juga menyinggung pemerintah Selandia Baru dan Australia yang ia sebut ‘kakak yang menghilang’ karena tidak siap membantu ‘pulau-pulau dengan asosiasi bebas’ mereka. Presiden lalu memuji Prancis karena ‘membantu’ pemerintahnya.
Desakan dari partai oposisi agar dilakukan tes gratis untuk seluruh populasi agar mereka dapat mengetahui dengan lebih baik penyebaran virus itu serta memberlakukan kembali peraturan karantina 14 hari bagi pengunjung, tampaknya tidak didengarkan oleh pemerintah, yang menyebut langkah ini terlalu mahal.
Ahli epidemiologi dr. Pierre-Henri Mallet menggambarkan minimnya pengujian Covid-19 di Mā’ohi Nui itu mengkhawatirkan dan ‘berbahaya’, terutama karena bangsa itu terus mengalami peningkatan kasus yang signifikan, mengatakan “ada kemungkinan bahwa 30.000 orang telah terkena virus ini.”
Otoritas di Prancis dan pemerintah setempat telah membuka perbatasan masuk Polinesia Prancis pada 15 Juli lalu untuk pengunjung internasional – terutama dari AS dan Prancis – dengan tujuan agar untuk menyelamatkan ekonomi lokal dengan sektor pariwisata dimana 20.000 orang dipekerjakan.
Kematian pertama di Polinesia Prancis terjadi pada 10 September.
Prancis lawan Covid-19, berpengaruh pada Mā’ohi Nui
Di Prancis, keputusan yang diambil oleh Presiden Emmanuel Macron pada pertengahan Oktober untuk memberlakukan larangan jam malam dan karantina wilayah sepanjang 15 hari di beberapa kota Prancis sejak awal November, tampaknya bertentangan dengan kebijakan lainnya untuk mengizinkan warga Prancis mengunjungi Polinesia Prancis untuk sementara waktu di bawah peraturan yang disebut prioritas economic lifeline.
Pemerintah Fritch mengatakan bahwa jika Mā’ohi Nui kembali menerapkan karantina wilayah itu akan menyebabkan ekonomi lokal semakin terpuruk, dan alih-alih, beberapa peraturan yang berlaku adalah membatasi jumlah orang yang berkumpul, terutama di tempat umum, dan larangan pelaksanaan festival atau acara keluarga; penutupan klub malam; membatasi jumlah pelanggan yang bisa makan di restoran; membatasi jumlah penganut semua agama di tempat-tempat ibadah; dan wajib memakai masker hidung mulut di pusat kota dan di gedung-gedung umum.
Untuk Tahiti dan Moorea, pembatasan jam malam diberlakukan dari pukul 9 malam sampai 4 pagi. Untuk wilayah lainnya, tidak ada larangan jam malam, tetapi banyak toko dan bar, tempat hiburan, dan pusat olahraga yang terpaksa tutup.
Komisaris Tinggi Prancis, Dominique Sorain, mengawasi bidang pertahanan dan keamanan Polinesia Prancis, dengan persetujuan pemerintah lokal.
Sekali lagi, pertimbangan ekonomi mengalahkan pertimbangan kesehatan dan keselamatan penduduk lokal, menurut kritik partai kemerdekaan.
Sementara negara Prancis berjuang untuk menyelamatkan ekonomi dan masyarakat, Presiden Fritch tampaknya bertekad hanya untuk menyelamatkan ekonomi di Tahiti terlebih dahulu.
Apakah ini déjà-vu dari kasus lainnya dalam sejarah Mā’ohi Nui?
Ini terlihat jelas seperti kasus déjà-vu, kasus yang, seperti diingatkan oleh partai kemerdekaan kepada orang-orang, tentang janji akan ekonomi yang lebih baik dan prestasi besar dalam sejarah manusia, yang dijanjikan oleh Jenderal Charles de Gaulle pada 1964. Janji itu akhirnya mendorong Permanent Commission of the Territorial Assembly untuk menawarkan dua atol, Moruroa dan Fangataufa, sebagai lokasi uji coba nuklir.
Ada ironi tertentu bahwa covid-19 dan uji coba senjata nuklir di Polinesia Prancis sangat mirip dalam hal minimnya informasi dan transparansi oleh pemerintah lokal dan otoritas Prancis.
Pada 15 September lalu, semua informasi tentang Covid-19 tidak lagi dianggap genting dan konferensi pers badan berwenang dikurangi, dari tiga kali seminggu menjadi satu kali saja, agar mereka dapat lebih fokus pada pemilu senator, membungkam dampak Covid-19 pada masyarakat.
Pengguna media sosial mengeluh tentang absennya data resmi mengenai jumlah pasien yang ‘sembuh’. Juga telah disinyalir bahwa pasien yang tidak berada di ICU juga masih mengalami gangguan kesehatan yang sama saat keluar dari rumah sakit.
Kerahasiaan yang menyelubungi kedua permasalahan ini bukanlah hal baru bagi penduduk Mā’ohi Nui, dan sejarah seringkali mengungkapkan kebenaran yang terjadi di masa lalu.
Komunitas diaspora Pasifik dalam menyingkapkan kerahasiaan
Sebagai anggota komunitas diaspora Mā’ohi Nui yang tinggal di Selandia Baru, kita bertugas untuk melaporkan apa yang kami anggap sebagai orang dalam diluar, sehingga masyarakat kami di pulau mereka masing-masing dapat menerima informasi secara aktif.
Untuk Mangareva secara khusus, salah satu kekhawatiran yang mungkin penting dalam hal laju kematian adalah faktor gangguan kesehatan yang sudah diderita pasien.
Apa artinya itu? Diabetes, penyakit jantung, obesitas, adalah beberapa penyakit yang menyebabkan Covid-19 terus berlanjut, tetapi sebagai salah satu pulau yang terkena dampak uji coba nuklir yang paling berat, mungkin penting juga untuk memastikan berapa banyak korban dari virus Corona yang didiagnosis dengan paparan radiasi.
Saat ini, di Mangareva ada tiga orang yang menunjukkan gejala Covid-19, dan mereka telah dikarantina di pulau-pulau tetangga dan semoga tidak ada korban jiwa dari kejadian ini.
Laporan-laporan kesehatan tentang jumlah korban fatal menunjukkan lebih banyak orang Polinesia yang korban, dan tampaknya masuk akal untuk mengakui bahwa sejauh ini, metropolis orang-orang Prancis menaati kebijakan kesehatan dan keselamatan yang diberlakukan oleh pemerintah.
Ini juga bisa berarti bahwa, dengan keadaan finansial yang lebih baik daripada masyarakat pribumi setempat, orang-orang keturunan Prancis tadi memiliki gaya hidup yang tidak dapat dimiliki oleh orang-orang Mā’ohi yang miskin.
Dengan menyebarkan informasi dari Selandia Baru, teman-teman saya dari komunitas Pasifik lainnya prihatin tentang persoalan Covid-19 yang menyerang masyarakat lokal di Mā’ohi Nui ini.
Kami siap mendukung dengan rasa solidaritas. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk menyebarkan informasi tentang masalah ini, yang masih jauh dari terselesaikan. (Asia Pacific Report)
Ena Manuireva adalah akademisi dan kandidat doktor dari Universitas Teknologi Auckland, ia berasal dari Mangareva di Kepulauan Gambier, sebuah kepulauan selatan terpencil di Polinesia “Prancis”.
Editor: Kristianto Galuwo
