Kerusuhan Kepulauan Solomon dan pembatasan Covid-19: wartawan lokal unjuk gigi

Jurnalis lepas Gina Kekea dan videografer/kamerawan Media One, Geoff Saemanea. - Elizabeth Osifela

Papua No.1 News Portal | Jubi

 

Oleh Sue Ahearn

Peliputan media tentang krisis yang terjadi baru-baru ini terjadi di Honiara itu bagaikan pertunjukan akan kehebatan karya-karya wartawan setempat di Kepulauan Solomon yang melaporkan berita dari dalam negara mereka sendiri.

Apakah kalian menyadari ada sesuatu yang berbeda tentang liputan berita kerusuhan baru-baru ini di Honiara?

Kisah-kisah yang beredar di stasiun TV, radio, dan jaringan daring di Australia dan internasional itu tidak dilaporkan oleh jurnalis asal Australia atau luar negeri, tetapi oleh reporter-reporter asal Kepulauan Solomon yang dengan profesional melaporkan perkembangan terkini dari garis depan konflik di Honiara. Tidak ada jurnalis di lapangan yang berasal dari Australia, Selandia Baru, atau di mana pun di dunia, hanya ada wartawan asli dari Kepulauan Solomon.

Jurnalis-jurnalis internasional, yang dikenal di industri ini sebagai wartawan parasut, adalah orang-orang yang biasanya mampir di kota peliputan selama beberapa hari di tengah-tengah bencana alam atau malapetaka. Seringkali wartawan terjun payung itu hanya memiliki pengetahuan atau latar belakang yang terbatas. Mereka ini berbeda dengan koresponden luar negeri, dimana koresponden dianggap sebagai pakar dalam bidangnya masing-masing.

Wartawan parasut datang dari jalanan di kota-kota besar terdekat dari daerah peliputan, umumnya dari negara maju, dan mempekerjakan seorang jurnalis lokal untuk membantunya dalam persiapan pelaporan, pelaporan, dan kebutuhan liputan lainnya. Wartawan parasut lalu memanfaatkan segenap keahlian dan pengetahuan yang dimiliki oleh wartawan lokal tadi untuk mengajukan laporan, menerima pujian sementara sang wartawan lokal sering kali tidak menerima pengakuan atas kontribusinya. Sang wartawan lokal juga mungkin tidak menerima bayaran yang sepadan.

Namun yang terjadi di Honiara baru-baru ini sangat berbeda. Akibat pembatasan terkait pandemi Covid-19 di negara itu, wartawan dan media asing tidak bisa memasuki perbatasan Kepulauan Solomon sama sekali untuk meliput kerusuhan di sana.

Media-media lokal pun unjuk gigi, menampilkan keahlian mereka dan berhasil dengan gemilang. Mereka sangat sigap dan sangat ahli dalam melakukan pekerjaan mereka. Penggunaan media sosial mereka juga patut dipuji, terutama dalam cara mereka meliput berita utama itu untuk dunia internasional.

Saat massa yang melakukan kerusuhan dan penjarahan mengamuk di Honiara selama tiga hari mencekam, tim media lokal bekerja sama mengumpulkan semua sumber daya mereka, video, dan fakta, seringkali sambil berlari dari bahaya karena mereka dilempari batu dan dikejar oleh para penjarah yang marah. Berita yang diliput oleh jurnalis lokal ABC di lapangan, Evan Wasuka, lengkap dengan liputannya langsung dari jalan-jalan Honiara yang hancur-hancuran, mendominasi berita malam di seluruh Australia. Berkat siaran langsung Wasuka dari Honiara, penonton stasiun penyiaran publik Australia itu bisa mendapat informasi yang reliabel selama beberapa hari.

Jurnalis lepas senior, Gina Kekea, juga melaporkan kerusuhan Kepulauan Solomon untuk berbagai outlet berita tersohor di seluruh dunia, termasuk BBC. Selain itu, ia juga dikutip oleh outlet berita raksasa lainnya termasuk CNN, The New York Times, The Washington Post, dan Al Jazeera.

Bahkan jurnalis olahraga asli Kepulauan Solomon, Elizabeth Osifelo, pun beralih peran sebagai reporter berita utama dalam meliput situasi di lapangan yang berubah dengan cepat. Kalian mungkin sempat mendengar liputannya yang luar biasa dengan Geraldine Doogue di acara radio Saturday Extra, segmen radio yang berfokus pada politik dan bisnis internasional.

Banyak orang yang terlibat sebagai media dalam peliputan kerusuhan ini adalah pekerja lepas yang bekerja bersama-sama untuk meliput berita, beberapa wartawan bahkan juga pernah meliput kerusuhan sebelumnya. Tapi bagi wartawan yang masih muda, seperti Job Rongo’au, yang meliput untuk stasiun radio ZFM Radio, itu adalah pengalaman pertamanya meliput langsung kerusuhan, dan hal itu sangat menakutkan baginya. Rongo’au menceritakan ada sejumlah pengunjuk rasa yang berusaha merampas ponselnya, tetapi dia berhasil melarikan diri ke tempat yang aman untuk menyimpan foto dan videonya yang luar biasa – foto dan videonya lalu dibagikan melalui sosial media Facebook oleh ribuan orang. Meski keselamatannya terancam saat itu, ia mengatakan karyanya lalu menjadi viral di media sosial dan digunakan oleh Al Jazeera, Reuters, ABC, dan banyak media internasional lainnya.

Ketika saya menghubunginya, mantan koresponden ABC untuk Kepulauan Pasifik, wartawan senior Sean Dorney, menekankan kepada saya bahwa menurutnya laporan Evan Wasuka itu sangat baik dan dia terkesan dengan berita yang dilaporkan dari media-media Kepulauan Solomon. Dia menambahkan bahwa ia merasa semua perusahan media di Australia bisa belajar dari wartawan berbakat yang terlibat di media Pasifik.

Di negara-negara berkembang, fenomena dimana staf lokal di negara yang menerima intervensi unjuk gigi dan mengambil alih sebuah peran penting, dikenal sebagai localisation. Hal ini merupakan hasil yang tidak terduga dari penutupan perbatasan internasional terkait Covid-19. Selama 18 bulan terakhir, pakar-pakar dan konsultan Australia dan negara-negara lainnya tidak dapat bepergian ke Pasifik untuk menjalankan proyek-proyek kemanusiaan mereka. Staf-staf lokal lalu diberdayakan dan berhasil mengelola proyek itu sementara orang-orang asing tertahan di negara mereka. Ada banyak yang berharap hal ini akan berlanjut setelah perbatasan internasional dibuka kembali.

Dorney menambahkan ia yakin bahwa pelatihan dan dukungan dari Australia yang diberikan kepada jurnalis-jurnalis lokal Kepulauan Pasifik selama 20 tahun terakhir oleh jurnalis-jurnalis senior – termasuk dirinya, Jemima Garrett, dan saya sendiri – telah berkontribusi pada tingginya keterampilan staf media yang kita lihat melaporkan dari Honiara saat ini. (The Interpreter)

Sue Ahearn adalah seorang wartawan dan konsultan media dengan spesialisasi Pasifik dan Asia. Dia adalah pendiri The Pacific Newsroom. Saat ini ia sedang menempuh studi Pembangunan Pasifik di Australian National University setelah selesai bekerja untuk ABC selama 30 tahun.

 

Editor: Kristianto Galuwo

Leave a Reply