Papua No.1 News Portal | Jubi
Merauke, Jubi – Kepala Polres Merauke AKBP Untung Sangaji memerintahkan penyelidik mengusut penyebab antrean panjang pembeli di tiga stasiun pengisian bahan bakar umum atau SPBU. Antrean yang telah berlangsung selama berbulan-bulan itu mengindikasikan terjadinya penyendatan dalam distribusi bahan bakar untuk masyarakat.
“Saya tidak suka terjadi antrean BBM (bahan bakar minyak) di SPBU. Sesuai ketentuan pemerintah, distribusi BBM bersubsidi harus lancar,” kata Untung, Selasa (24/11/2020).
Dia menegaskan distribusi bahan bakar harus berjalan lancar seperti daerah lain, dan bukan malah makin parah dengan mengularnya antrean pembeli. Pasokannya jangan sampai tersendat sehingga merugikan masyarakat.
“Saya ingin mengetahui kuota harian BBM untuk tiga SPBU tersebut. Karena itu, saya menginstruksikan penyelidik mengusutnya. Laporan (hasil penyidikan) harus cepat diserahkan (kepada kepala polres),” tegas Untung.
Untung juga memerintah penyelidik menelusuri distribusi penjualan bahan bakar hingga ke perkebunan kelapa sawit. Itu untuk memastikan pihak perusahaan tidak memanfaatkan bahan bakar subsidi yang dijual di SPBU.
“Perkebunan kelapa sawit tidak boleh membeli BBM di SPBU. Jika itu terbukti, tentu kami tindak karena mereka telah merugikan masyarakat,” ujarnya.
Kelangkaan bahan bakar bersubsidi dikeluhkan warga Merauke. Mereka kesulitan mendapat premium karena stoknya sering kosong di SPBU.
“Petugasnya bilang premium habis dan hanya tersedia pertalite. Kalau habis, kenapa masih banyak kios (eceran) menjual premium, yang harganya Rp10 ribu sebotol. Mereka mendapatkanya dari mana?,” kata Antonia (40), warga Merauke. (*)
Editor: Aries Munandar






