Kafe Sastra: Membincang Novel Etnografi Papua

Dr. Kasim Saleh, dosen pasca sarjana Uncen (kiri), pegiat literasi dan penulis novel “Cinta Putih di Bumi Papua”, Dzikry el Han dan moderator Fauziah Matondang dalam diskusi “Kafe Sastra” di Grand Abe Hotel, Distrik Abepura, Minggu (28/8/2016) – Jubi/IST
Dr. Kasim Saleh, dosen pasca sarjana Uncen (kiri), pegiat literasi dan penulis novel “Cinta Putih di Bumi Papua”, Dzikry el Han dan moderator Fauziah Matondang dalam diskusi “Kafe Sastra” di Grand Abe Hotel, Distrik Abepura, Minggu (28/8/2016) – Jubi/IST
Jayapura, Jubi – Beberapa novel dengan latar dan cerita tentang Papua mulai bermunculan di masyarakat. Bahkan di etalase toko buku sekelas Gramedia di Jayapura terpajang sejumlah novel tentang Tanah Papua. Lantas novel-novel tersebut disebut novel etnografi Papua?

Minggu, 28 Agustus 2016, Sekolah Menulis Papua (SMP) kembali menggelar diskusi sastra bertajuk Kafe Sastra di Abepura, Kota Jayapura.

Kafe sastra bertujuan untuk menarik generasi muda Papua untuk lebih menyukai aktivitas membaca dan menulis, khususnya karya sastra. Kafe Sastra kali ini membincang novel etnografi Papua, dengan menghadirkan pembicara Dr. Kasim Saleh, dosen pasca sarjana Universitas Cenderawasih (Uncen) dan Dzikry el Han, pegiat literasi dan penulis novel Cinta Putih di Bumi Papua.

Sedikitnya 50 orang hadir, dengan sebagian besar peserta anak muda, dalam diskusi yang dimoderatori oleh Julia Fauziah Matondang ini.

Beberapa novel disebutkan bercerita tentang dan latar belakang tanah Papua. Sebut saja Sali: Kisah Seorang Wanita Suku Dani, karya Dewi Linggasari, Namaku Teweraut karya Ani Sekarningsih, Tanah Tabu karya Anindita S.Thaif, Isinga karya Dorothea Rosa Hertiany, Mawar Hitam Tanpa Akar karya Aprila Wayar dan Cinta Putih di Bumi Papua karya Dzikry el Han. Oleh pemerhati sastra, novel-novel ini disebut sebagai novel etnografi.

Dr.Kasim menjelaskan etnografi sebagai metode penelitian dan penulisan novel. Menurut dosen sosiologi pascasarjana Uncen ini elemen etnografi mencakup empat hal, yaitu deskripsi yang mendetail, berbentuk cerita informal, bertemakan budaya, formatnya menggambarkan fakta, bisa dicroscek dan menggunakan interpretasi.

Dengan mengambil contoh novel Sali:Kisah Seorang Wanita Suku Dani karya Dewi Linggasari, Dr. Kasim menegaskan bahwa informasi yang disajikan dalam novel Sali sangat kaya sekaligus mendetail tentang kondisi perempuan di suku Dani.

Novel ini berkisah tentang seorang perempuan suku Dani bernama Aburah. Sebagai seorang istri yang ketika pernikahan telah dibeli dengan dua puluh ekor babi, maka suaminya, Kugara seakan berhak memperlakukannya seperti budak. Ia harus berladang, menyediakan makanan berupa ubi dan sayuran bagi seluruh keluarga, membelah kayu bakar, memberi makan babi dan menjaga anak-anak setiap hari, baik dalam keadaan sehat maupun ketika mengandung atau sakit.

Menurut Dr. Kasim, novel Sali ini dengan sangat jeli menggambarkan kondisi ketertindasan perempuan Dani sehingga beliau juga menjadikan novel ini sebagai salah satu rujukan disertasinya tentang relasi gender perempuan Dani.

Lain haknya dengan Dzikry el Han, penulis novel Cinta Putih di Bumi Papua. Dalam keterangan tertulis yang diterima Jubi di Jayapura, Senin (29/8/2016) Dzikry menjelaskan setidaknya ada tiga hal yang menjadi pembeda antara novel etnografis dan yang lain.

Pertama, novel etnografis dihasilkan dari penelitian lapangan. Metode khasnya adalah wawancara dan observasi langsung dengan menitikberatkan pada fenomena bahasa. Termasuk fenomena bahasa adalah istilah-istilah khas, konsep-konsep yang hanya ada di masyarakat itu. Dzikry menyebutkan bahwa dalam novelnya konsep-konsep khas di Fakfak ini banyak dijelaskan, seperti upacara anois waras, sumpah siput, dupiad, kaborbor, gim dan sigitain.

Kedua, penulis berusaha menggambarkan organisasi pikiran yang dimiliki masyarakat yang diteliti. Organisasi pikiran ini sifatnya emplisit, tidak tampak. Misalnya bagaimana masyarakat Patipi di Fakfak, Papua Barat memandang adat dan agama dan bagaimana mereka memandang pertemanan dalam konsep naret.

Ketiga,novel etnografis banyak berupa kalimat yang menunjukkan perilaku masyarakat (showing) bukan sekadar bercerita (telling).

Berdasarkan ketiga pembeda ini Dzikry mempersilahkan pembaca untuk menilai apakah karyanya Cinta Putih di Bumi Papua termasuk novel etnografi atau tidak.

Sekolah Menulis Papua berharap kegiatan kampanye literasi di Papua ini semakin semarak dan dilakukan oleh banyak pihak. Papua bukan hanya kaya sumber daya alamnya, tetapi juga memiliki kekayaan budaya, adat istiadat, dan kearifan lokal yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya.

“Hal-hal positif inilah yang perlu ditulis, disebarkan dan diapresiasi oleh dunia,” kata Dzikry.

Ketua Komunitas Sastra Papua Andy Tagihuma menilai novel-novel yang disebutkan di atas bias etnografi karena banyak yang salah.

“Jadi, itu novel setengah etnografi. Bukan novel etnografi Papua,” kata Andy.

Namun demikian ia tak menjelaskan lebih lanjut novel etnografi Papua sesungguhnya. (*)

Related posts

Leave a Reply