Jualan roti hingga usia tua, sehari beromzet Rp1,7 juta

papua
Robinson melayani pembeli roti dan kuenya di Pasar Cikombong, Kotaraja, Kota Jayapura. - Jubi/Theo Kelen.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Usaha roti merupakan salah satu usaha yang cukup sederhana, tetapi jika dilihat dari prospek bisnisnya lumayan menjanjikan, termasuk di Papua.

Dengan kemampuan membuat roti yang bercita rasa nikmat dan dijual dengan harga yang terjangkau. Didukung pula dengan lokasi yang strategis, tentu mampu mendatangkan keuntungan.

Read More

Di Pasar Cikombong, Kotaraja, Jayapura, Papua menjadi salah satu pasar malam yang ramai dikunjungi orang, karena lokasinya strategis dan mudah ditemukan. Di pasar ini Isak Raweyai, Robinson, dan pelaku UMK roti lainnya menjajakan dagangannya. Ada juga pedagang yang menjual ikan, sayur-sayuran dan bumbu-bumbu dapur hingga papeda.

Tempat berjualan yang terbuat dari beton bertegel berukuran kurang lebih dua kali satu meter tersebut, Isak Raweyai, pria 67 tahun, menjajakan rotinya. Berjualan roti mulai ditekuni Raweyai bersama istrinya Yulce Pahala sejak 1995.

BACA JUGA: Kisah sukses usaha roti di Papua yang berawal dari modal Rp100 ribu

Ia mulai berjualan selama lima tahun dengan fasilitas seadanya hingga 2000. Lalu Pemkot Jayapura, Papua membangun pasar yang baru.

“Dulu kita masih jualan di atas tanah, kemudian sampai tahun 2000 baru pemerintah bantu kita bangun pasar,” ujarnya.

Raweyai sebenarnya seorang pendeta yang hingga kini masih melayani jemaat di salah satu gereja di Kotaraja, Jayapura, Papua. Sambil melayani jemaat ia mencari pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama istrinya di masa tua.

“Ya, kita tidak harus fokus dengan jemaat, tapi juga punya usaha. Ya, karena untuk kebutuhan hidup dan untuk anak-anak yang harus disekolahkan waktu itu. Sekarang mereka sudah bekerja semua, ada satu di Morotai dan dua kerja di Manokwari,” kata ayah tiga anak tersebut.

Pada 1995 Raweyai bersama istirinya memulai usaha dengan modal pribadi Rp1 juta. Dalam sekali produksi ia menghabiskan tepung 25 kg per hari  dan mampu menghasilkan 100 roti.

Kini dengan usia yang semakin tua dalam sekali produksi ia hanya mampu membuat 20 kg tepung dengan modal belanja untuk sekali produksi Rp500 ribu.

“Sekarang cuma bisa buat 25 roti, karena usia makin tua produksi juga ikut dikurangi,” ujarnya.

Dalam membuat roti ia dan istrinya bekerja secara manual. Jenis roti yang dibuatnya adalah roti manis dan roti kacang. Roti ini dijual Rp20 ribu hingga Rp25 ribu.

Raweyai berjualan roti hanya di Pasar Cikombong, Kotaraja dari pukul 4 sore sampai 10 malam. Omzet yang didapatnya sehari Rp1 juta hingga Rp1,7 juta.

“Kalau pada 2009 sampai 2013 pendapatan bisa sampai Rp2 juta, tapi sekarang menurun karena produksi dikurangi,” katanya.

Saat ini Raweyai dan istrinya, Pahala telah memasuki usia di atas 60 tahun. Namun, mereka masih bersemangat berjualan roti yang sudah ditekuni selama 26 tahun itu.

Karena itu ia berharap dari Disperidagkop dan UMK Provinsi Papua maupun Pemkot Jayapura dapat memberikan bantuan berupa modal atau perlengkapan usaha roti.

“Kita ingin juga ada uluran tangan pemerintah untuk bantu kita punya usaha ini. Tadinya kita kasih masuk di Kementerian tapi kita tidak dapat bantuan juga, malah mereka kasih ke orang lain yang dapat. Pokoknya bisa bantu dengan perlengkapan kalau memang tidak ada uang,” ujarnya.

Berjualan roti dan kue juga ditekuni Robinson, pria 61 tahun. Ia dan istrinya Alfiani Mahali juga berjualan dari pukul 4 sore hingga 9 malam di Pasar Cikombong, Kotaraja. Ia sudah berjualan sejak 1992.

“Kami berjualan di sini dulu mulai dari pasar belum punya rumah,” katanya.

Menurutnya usaha roti dan kue memiliki peluang yang bagus. Juga karena alasan sebelumnya menjalankan usaha bengkel tapi gagal.

Sekali produksi Robinson mengeluarkan modal Rp400 ribu hingga Rp500 ribu dan menghabiskan tepung 25 kg.

Roti yang dibuat antara lain roti isi kacang dan roti isi cokelat serta kue ampas terigu dan donat. Untuk kue ia jual Rp2 ribu dan harga Rp10 ribu. Sedangkan untuk roti hingga Rp25 ribu. Omzetnya sehari Rp500 ribu hingga Rp1,5 juta.

Usaha roti dan kue Robinson masih dikerjakan secara manual bersama istri dan satu orang yang membantunya. Untuk lebih maju ia juga berharap dari Dinas Perindagkop dan UMK Kota Jayapura bisa memberikan bantuan berupa perlengkapan untuk usaha roti dan kue.

“Kalau bisa pemerintah bantu alat moleng untuk aduk adonan,” ujarnya. (*)

Editor: Syofiardi

Related posts

Leave a Reply