Papua No.1 News Portal
Seoul, Jubi – Sebuah kelompok yang dipimpin pembelot Korea Utara menyiapkan ratusan botol plastik berisi beras untuk dihanyutkan ke Utara, meskipun ketegangan meningkat dengan adanya tantangan hukum dari Korea Selatan dan ancaman dari Pyongyang. Para pembelot menyebut kegagalan Korea Selatan untuk menghentikan aksi para pembelot. Sedangkan Korea Utara meledakkan kantor penghubung bersama di sisi perbatasannya, seiring diakhirinya dialog dengan Selatan, dan mengancam melakukan tindakan militer.
Korut juga mengecam para pembelot sebagai “anjing kampung” dan “sampah manusia”, Korea Utara menyebut aktivitas mereka adalah penghinaan terhadap pemimpin tertinggi negara itu.
Tercatat Korea Selatan ingin memperbaiki hubungannya dengan Korea Utara. Pekan lalu, pemerintah mengumumkan akan melakukan tindakan hukum terhadap dua kelompok yang dipimpin oleh pembelot Utara, dengan mengatakan pengiriman bantuan dan propaganda lintas batas telah meningkatkan ketegangan dengan Korea Selatan.
Baca juga : Trump sangsikan komitmen denuklirisasi Korea Utara
Korea Utara dan Selatan, senyum dan pohon perdamaian
Dubes Korea Utara di Italia hilang
Kegiatan itu juga menimbulkan risiko bagi warga Korea Selatan yang tinggal di perbatasan dan menyebabkan kerusakan lingkungan.
Namun, satu kelompok pembelot tetap berencana mengirim ratusan botol berisi beras, obat-obatan, dan masker medis ke Korea Utara dengan menghanyutkannya ke laut dekat perbatasan.
“Kami melakukan ini sebagai bantuan kemanusiaan, jadi apapun yang dikatakan Korea Utara, kami akan terus membantu mereka yang berada dalam situasi sulit termasuk lansia dan korban,” kata Park Jung-oh 61 tahun, seorang pembelot Korea Utara yang memimpin kelompok Kuensaem.
Berkumpul di taman kecil di Seoul, kelompok itu mengisi lusinan botol yang masing-masing berkapasitas dua liter dengan 1,5 kilogram beras, sehingga totalnya mencapai 700 kilogram beras.
Kuensaem telah mengirim barang ke Korea Utara dua kali sebulan selama lima tahun terakhir. “Pengiriman pada Minggu (21/6/2020) akan menandai yang ke-108 kalinya,” kata Park menambahkan.
Pihak berwenang Korea Selatan sesekali bergerak untuk menghentikan operasi semacam itu, termasuk pada 2018 selama serangkaian pertemuan puncak antara Presiden Korea Selatan Moon Jae-in dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.
“Saya tidak tahu mengapa Kementerian Unifikasi tiba-tiba memarahi kami. Pemerintah (Korea Selatan)—polisi Gangwha, polisi maritim dan militer—semua tahu tentang kami,” kata Park.
Dia mengatakan belum dihubungi oleh otoritas Korea Selatan sejak pemerintah mengumumkan akan melakukan tindakan hukum.
Beberapa kelompok yang dipimpin oleh pembelot secara teratur mengirim selebaran melewati perbatasan, bersama dengan makanan, uang kertas 1 dolar AS, radio mini, dan stik USB yang berisi drama dan berita Korea Selatan. Sebagian besar dikirim menggunakan balon atau botol di sungai. (*)
Editor : Edi Faisol
