Papua No. 1 News Portal | Jubi
Jakarta, Jubi – Omar bin Osama bin Laden, anak pimpinan teroris menyatakan ingin menjadi duta perdamaian dunia. Hal ini dilakukan Omar untuk menebus kesalahan besar yang pernah dilakukan ayahnya selama memimpin pasukan Al Qaeda.
“Banyak orang mengira orang Arab terutama bin Laden, terutama putra Osama semuanya teroris,” kata Omar kepada The Associated Press.
Menurut Omar, Osama merupakan orang tua yang keras dalam mendidik anaknya. Ia juga seorang patriarki yang tidak segan merampas mainan anak-anaknya, memukul mereka secara teratur, dan kemudian mencoba membujuk mereka untuk menjadi sukarelawan untuk misi bunuh diri.
“Saya ingin dunia belajar bahwa saya telah tumbuh, bahwa saya merasa nyaman di dalam diri saya untuk pertama kalinya dalam hidup saya. Masa lalu adalah masa lalu dan seseorang harus belajar untuk hidup dengan apa yang telah berlalu,” kata Omar terkait keinginannya menjadi duta perdamaian dunia.
Baca juga : Orang nomor dua Al-Qaeda dikabarkan mati dibunuh di Iran
Bakal dicabut dari daftar negara pendukung teroris, Sudan bayar Rp4,9 triliun
Trump akui pasukan AS bunuh pemimpin al-Qaida di Yaman
Menurut dia, seseorang harus memaafkan, sehingga dia bisa berdamai dengan diri dan emosinya.
Tercatat pada masa remaja Omar sempat mendukung pergerakan ayahnya, namun ia mulai tersadar akan kebodohan perang ketika tertembak akibat perang saudara di Afghanistan. Selain itu faktor yang membuatnya meninggalkan misi tersebut ialah, kelompoknya saling menembak satu sama lain karena tidak bisa membedakan kawan dan musuh ketika perang.
Sejak usia 18 tahun Omar sudah meninggalkan misi al Qaeda dan mulai bepergian bersama ibunya ke Suriah. Omar untuk terakhir kalinya melihat Osama di kompleknya di Afghanistan pada 2001. Saat itu usianya menginjak 20 tahun, dan tidak lama setelah itu ia mendengar kabar dua pesawat penumpang menabrak menara Utara dan Selatan World Trade Center Kota New York.
Tidak lama setelah kejadian 11 September 2001, Osama melarikan diri ke pangkalan militernya di pegunungan Tora Bora yang tertutup gua.
Omar yang saat ini sudah berusia 39 tahun tidak berhenti mengutuk kejadian 11 September 2001 yang banyak memakan korban. Selain itu, ia mencela perbuatan al Qaeda atas pembantaian sewenang-wenang terhadap warga sipil tak berdosa.
Omar bersikeras menolak segala ideologi yang ditebar oleh Osama meskipun nama ayahnya selalu melekat dalam dirinya. Ia juga telah menjauhi segala perbuatan ayahnya.
Saat ini Omar tinggal di Normandi, sebuah pedesaan yang ada di Prancis bersama istrinya, Zaina Mohamed Al-Sabah. Omar banyak mengisi waktu luangnya dengan melukis dan merawat kuda-kuda yang ada di pekarangan rumahnya.
Fungsi seni bagi Omar yaitu, cara untuk memberikan ketenangan masa kecilnya di Arab Saudi dan kehidupan barunya di Prancis, sekaligus bergulat dengan trauma dari segala sesuatu yang terjadi di antaranya. (*)
Editor : Edi Faisol
