
Diceritakan Kembali Oleh Wilhelm Hembring Yanowaring
(Cerita/sumber penutur: Johanes Hembring)
Pada zaman antah berantah di suatu tempat di selatan Kota Genyem, Ibukota Distrik Nimboran, Papua, ada sebuah dusun yang disebut orang Sublub. Pada dusun itu hiduplah Ikan-ikan Keimbang, Kepiting darat, Udang dan Ikan Gabus. Makhluk-makhluk air ini hidup bersahabat dan akrab dalam kolam-kolam air yang membatasi ruang gerak mereka dengan memelihara anak bersama dan mencari makan bersama secara adil dan merata.
Namun suatu waktu bersamaan para Ikan, Kepiting dan Udang itu terganggu saat seekor Ikan Keimbang menaruh curiga kepada Kepiting lantaran anak-anaknya lenyap entah kemana. Keimbang menyangka Kepiting telah memakan anak-anaknya. Hubungan kedua jenis binatang ini tidak harmonis lagi, puncak kecurigaan terjadi pada suatu ketika kelompok Ikan Keimbang menyerang kelompok Kepiting tanpa ampun yang dibalas oleh Kepiting. Sepanjang hari, kedua jenis binatang air itu berkelahi dan saling menyerang sekuat tenaga sampai kulit punggung beberapa Kepiting pecah. Ikan Keimbang telah mengetahui rahasia kelemahan Kepiting terletak pada kulit punggung yang rapuh. Perkelahian berakhir setelah kelompok Ikan Keimbang berlari pergi meninggalkan dusun kolam air Sublub menuju ke utara hingga tiba pada suatu tempat yang disebut Butuo Tabang (saat ini lokasi bekas unit pemukiman transmigrasi Nimbokrang I). Perpindahan kelompok ini diikuti oleh para Kepiting yang mengejar dari belakang. Butuo Tabang menjadi semakin ramai dengan perseteruan yang mengakibatkan tulang punggung setiap Kepiting pecah dihantam oleh Ikan Keimbang. Oleh sebab itu, kelompok Ikan Keimbang berpindah terus ke utara hingga tiba di Demta dan masuk ke laut pesisir pantai di sekitar Teluk Demta.
Darah Kepiting mengalir mengubah warna air Butuo Tabang yang jernih menjadi merah abadi dari masa ke masa, sedangkan luka bekas hantaman Ikan Keimbang telah sembuh dan meninggalkan bekas pada setiap Kepiting dalam setiap generasi makhluk itu. Beberapa Kepiting pergi menyusul ke arah kepergian Ikan Keimbang di pantai. Kelompok ini hanya dapat mengawasi gerak-gerik Ikan Keimbang dari batu-batuan batas deburan ombak Samudera Pasifik. Ikan Keimbang telah menjadi ikan yang hidup di laut, sedangkan Kepiting tak dapat hidup di tempat yang sama dengan ikan itu. Kedua jenis makhluk ini dibatasi oleh ruang dan kesempatan hidup yang baru dan berbeda. Perpisahan yang terjadi karena suatu kecurigaan yang berakhir dengan perkelahian sepanjang perputaran waktu. Ikan Keimbang telah salah menuduh Kepiting, menurut penutur cerita ini, Ikan Gabus dan Udang sebagai penyebab tersembunyi. Kedua makhluk tersebut yang rtelah memakan anak Ikan Keimbang. Akhirnya Dusun Sublub menjadi kosong. Ikan Gabus memilih tempat tinggal baru di Danau Sentani, Udang merantau ke semua kali dan sungai dan sebagian pergi ke Lautan Pasifik.
Sumber: Cerita Rakyat Papua Dari Jayapura (Yang Terhempas Dalam Goncangan Peradaban). Pemerintah Kabupaten Jayapura dan Penerbit Arika, 2009




