
Jayapura, Jubi – Gubernur Papua Lukas Enembe meminta Pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang (Pengubin) untuk segera menyelesaikan permasalahan batas di wilayahnya secara baik.
Diketahui, di sebelah utara, Pegunungan Bintang berbatasan dengan Kabupaten Keerom, sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Boven Digoel, sebelah Timur berbatasan dengan Negara tetangga Papua New Guinea (PNG) dan sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Yahukimo.
“Masalah perbatasan ini harus didiskusikan dengan baik secara bersama-sama sehingga tidak menimbulkan konflik karena perluasan wilayah,” kata Lukas Enembe, di Jayapura belum lama ini.
Khususnya untuk Kabupaten Pegunungan Bintang yang berbatasan dengan Boven Digoel, Yalimo, Yahukimo dan Keerom, batas wilayah harus dibicarakan baik dengan cara duduk bersama untuk menghasilkan solusi terbaik.
“Permasalahan ini harus diselesaikan dengan baik sehingga proses pembangunan di wilayah sekitarnya dapat berjalan dengan lancar,” ujarnya.
Sebelumnya, Biro Tata Pemerintahan Papua mengklaim Dana Alokasi Umum (DAU) menjadi salah satu alasan masalah batas wilayah di Papua sulit untuk diselesaikan.
Kepala Biro Tata Pemerintahan Setda Papua, Sendius Wonda mengatakan DAU yang digelontorkan ke daerah tergantung dari besaran luas wilayah, jumlah penduduk, indeks kemahalan konstruksi dan indeks kemiskinan relatif.
“DAU yang digelontorkan ke daeah tergantung besaran luas wilayah, sehingga ini juga menjadi salah satu penyebab masalah batas sulit untuk diselesaikan,” katanya.
Menurut ia, secara nasional masalah batas wilayah tidak ada yang selesai, kalaupun berhasil diselesaikan bisa dihitung. “Hal ini dampak dari pemekaran dan kepentingan untuk mendapat dana lebih besar,” ujarnya.
Ia memberi contoh, masalah batas wilayah antara Kota Jayapura dan Kabupaten Keerom yang mana awalnya pemerintah sudah anggap selesai, namun ternyata sampai hari ini masih saja timbul masalah.
“Jadi ini memang bukan hal yang gampang, kalau para pihak kabupaten a dan b punya niat baik dan sepakat pasti masalah batas bisa selesai,” kata Sendius Wonda. (*)