
Jayapura, Jubi – Gubernur Papua Lukas Enembe meminta para pemegang izin yang menggunakan lahan skala luas, terutama usaha perkebunan, kehutanan dan pertambangan berupaya seoptimal mungkin dan mencari terobosan.
“Sekarang saatnya untuk mencari terobosan dan inovasi, bagaimanapun caranya supaya bisa berjalan jangan hanya datang dan mengkapling-kapling lahan kemudian dibiarkan terlantar. Itu justeru hanya akan menghalangi investor lainnya yang mungkin lebih serius,” kata Lukas Enembe melalui Staf Ahli Bidang Kesejahteraan Dan Sosial Ekonomi, Rosina Upessy, di Jayapura, Rabu (15/6/2016).
Menurut Enembe, salah satu kendala investasi sektor pertanian adalah infrastruktur yang terbatas. Dimana hal ini berakibat pada tak dapat di jangkaunya seluruh sentra-sentra perkebunan di seluruh daerah.
“Makanya, road map Kementerian Pertanian, beberapa tahun yang lalu kami dorong untuk menjadi lokasi swasembada gula secara nasional melalui program MIFFE, namun hingga saat ini kita belum menemukan varietas yang unggul dan cocok untuk dikembangkan,” ujarnya.
“Tak hanya itu, lebih baik kita ganti komoditi yang bisa langsung ditanam sesuai dengan kondisi setempat. Supaya investasi perkebunan tetap jalan misalnya, daripada membuang waktu menunggu varietas tebu yang cocok,” tambahnya.
Ia tegaskan, Papua sudah berkomitmen untuk wujudkan pembangunan yang berdaya saing di lima wilayah pembangunan. Sehingga diharapkan para investor mendorong serta mempercepat realisasi investasi dan Pelaporan.
“Termasuk membuat dan menyampaikan Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) setiap tiga bulan secara rutin. Supaya pemerintah daerah maupun pusat dapat mengetahui bagaimana pergerakan ekonomi riil di Papua,” kata Enembe.
Dia menambahkan di Papua tidak boleh ada calo perizinan yang hanya datang mengurus izin, kemudian setelah dapat di jual ke pihak lain. “Tanah Papua tidak mengharapkan orang-orang seperti itu. Jadi saya perlu ingatkan jangan ada yang mencoba-coba menjadi calo,” tutupnya. (*)