Papua No. 1 News Portal | Jubi
Jayapura, Jubi – Ketua Kelompok Khusus atau Poksus DPR Papua, John NR Gobai berpendapat perlu ada tim independen menginvestigasi hilangnya beberapa warga di Kabupaten Intan Jaya, dalam beberapa waktu terakhir.
Ia mengatakan hingga kini tiga warga Intan Jaya dinyatakan hilang. Dua pemuda, Luther Zanambani dan Apinus Zanambani dinyatakan hilang sejak April 2020. Hingga kini keberadaan keduanya belum diketahui.
Belum lama ini seorang warga lainnya bernama Sem Kobogau (51 tahun) diduga hilang. Kobogau dinyatakan hilang oleh pihak keluarga dan warga, sejak dibawa oknum yang diduga anggota TNI pada 5 Oktober 2021.
“Beberapa waktu terakhir ini kan, orang hilang ini sudah tiga ya, itu yang kelihatan. Yang diketahui. Yang tidak diketahui [publik], ya kami kami tidak tahu. Itu perlu investigasi,” kata John Gobai kepada Jubi, Kamis (21/10/2021).
Gobai mengatakan, dalam situasi Intan Jaya beberapa tahun terakhir, ia juga prihatin dengan pemerintah daerah setempat. Sebab, Pemkab Intan Jaya dianggap kini berada pada situasi dilematis.
“Pertama itu operasi ini kan negara ya, perintah dari pusat. Operasi keamanan, penambahan pasukan dan yang merembes pada kekerasan yang terjadi di Intan Jaya. Saya kira di situlah yang menjadi titik dilemanya pemerintah Intan Jaya,” ucapnya.
Katanya, Bupati Intan Jaya pernah menyerukan kedua pihak yang berkonflik di sana, Organisasi Papua Merdeka (OPM) dan aparat keamanan agar tidak berkonflik di wilayahnya.
“[Bupati juga] minta supaya OPM sama TNI non organik ditarik. Tapi saya dapat informasi diduga [bupati] dia itu ditekan pihak tertentu. Artinya begini, kalau itu musuhnya adalah OPM, ini kan sudah lama mereka ada di sana, dan selama itu aman aman saja,” ujarnya.
Anggota DPR Papua melalui mekanisme pengangkatan itu menegaskan, apabila keberadaan aparat keamanan di Intan Jaya alasannya menjaga PT Freeport Indonesia, tidak harus berjaga di tengah tengah Kota Sugapa, ibu kota Intan Jaya. Mestinya aparat keamanan berjaga di sekitar areal masuk ke lokasi PT Freeport Indonesia.
Namun jika keberadaan aparat keamanan seperti dugaan berbagai pihak, berkorelasi dengan rencana penambangan di Blok Wabu, cara -cara ini justru akan membuat masyarakat menjadi apatis, benci dan akhirnya menolak rencana penambangan di sana.
“Kalau mau mengusir lalat tidak perlu pakai senjata. Cukup dengan tangan saja kan. Kalau mengincar potensi alam di atas tanah ulayat sekelompok warga, senjata bukan mulut untuk bicara dengan warga. Tapi gunakan mulut dan hatimu bicara dengan warga. Kini penolakan Blok Wabu cukup kencang oleh masyarakat karena dugaannya itu, bukan soal ada OPM. Mungkin karena ada kepentingan investasi,” katanya.
Seorang warga sipil di Sugapa, Intan Jaya dilaporkan hilang setelah ditangkap oleh empat orang yang diduga anggota TNI pada hari Selasa (5/10/2021).
Hilangnya warga sipil ini dilaporkan oleh seorang warga Intan Jaya kepada Jubi melalui sambungan telepon.
Warga ini mengatakan pada hari Selasa itu, sekitar pukul18.00 waktu setempat, Sem Kobagau yang dilaporkan hilang ini sedang berada di warung milik Mathius Dosay untuk membeli Togel (Toto Gelap).
“Lalu ada anggota TNI empat orang dengan pakaian lengkap masuk dalam kios dan langsung tangkap Sem,” jelas warga ini, Jumat (8/10/2021).
Saat ditangkap itu, Sem berteriak minta tolong. Meskipun beberapa warga lainnya berusaha menahan Sem, namun empat anggota TNI tersebut bisa menarik Sem keluar warung lalu membawanya kea rah kantor BUpati Intan Jaya.
Keesokan harinya, keluarga Sem datang ke Polsek Sugapa bermaksud agar Sem yang ditangkap anggota TNI itu dibawa saja ke Polsek untuk diproses di Polsek kalau memang bersalah.
Peristiwa ini sudah dilaporkan ke Polres Intan Jaya. Kapolres Intan Jaya AKBP Sandi Sultan membenarkan peristiwa penangkapan Sem.
“Benar. Polisi sudah mengambil langkah-langkah koordinasi dengan seluruh jajaran TNI dan Polri di Intan Jaya dan melaporkan ke Kapolda,” kata Kapolres saat dikonfirmasi Jubi. (*)
Editor: Syam Terrajana
