Empat warga Sukabumi meninggal akibat DBD

Papua
Ilustrasi, pixabay.com
Ilustrasi, pixabay.com

Mereka tak tertolong  karena telat mendapatkan pengobatan

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Read More

Sukabumi, Jubi – Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mencatat sepanjang Januari hingga April 2019, terdapat empat warga yang meninggal akibat Demam Berdarah Dengue (DBD). Mereka tak tertolong  karena telat mendapatkan pengobatan.

“Sejak awal tahun kasus penyebaran DBD di Kabupaten Sukabumi cukup tinggi bahkan hingga April ini sudah tercatat 212 warga terlaporkan terjangkit DBD,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit P2P, Dinkes Kabupaten Sukabumi, Damayanti Pramasari, Jumat (19/4/2019).

Baca juga : Kematian seorang ibu hamil di Sumba Timur akibat DBD

Galang bersih-bersih massal cegah DBD, Dinkes Biak Numfor libatkan warga

Hingga Februari, delapan kasus DBD di Nabire

Menurut Damayanti , dari jumlah tersebut 104 positif DBD sisanya masih gejala dan empat lainnya meninggal dunia. Jumlah itu sangat tinggi jika dibandingkan dengan periode yang sama di 2018, hanya 103 kasus saja dan tidak ada yang meninggal dunia, sehingga pada tahun ini angka penyebaran DBD meninggal lebih dari dua kali lipat.

Para penderita itu tersebar di 47 kecamatan, namun kecamatan yang menjadi sorotan penyebaran DBD meliputi kecamatan Nagrak, Parungkuda, Cikembar dan Palabuanratu. Dinkes Sukabumi juga memperkirakan jumlah warga yang mengalami gejala hingga positif akan terus meningkat karena dipengaruhi musim penghujan.

“Biasanya musim penghujan ini banyak genangan air yang dijadikan sarang oleh nyamuk Aedes aegypti untuk berkembangbiak. Ditambah masyarakat bisa saja lalai tidak membersihkan genangan air di wilayahnya masing-masing,” kata Damayanti menjelaskan.

Baca juga : RSUD Balaraja kewalahan tampung pasien DBD

Ini pemicu naiknya kasus DBD di Papua

Ia mengimbau jika ada warga yang diduga mengalami gejala DBD seperti panas tubuh yang tinggi, terdapat ruam di mulut dan kulitnya terdapat bintik merah, agar segera di bawa ke rumah sakit atau tempat pelayanan kesehatan terdekat.

Langkah itu dinilai penting agar bisa segera ditangani. Sebab jika tidak cepat ditangani penyakit ini bisa menyebabkan kematian. (*)

Editor : Edi Faisol

Related posts