Papua No.1 News Portal | Jubi
Jakarta, Jubi – Kementerian kesehatan mengonfirmasi temuan satu kasus mutasi virus SARS-CoV-2 varian E484K alias ‘Eek’. Varian virus asal Jepang itu bukan berasal dari penularan warga Indonesia yang habis bepergian ke luar negeri, namun penularan virus terjadi secara lokal.
“Tak habis bepergian, penularan kasus lokal,” kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, Selasa (6/4/2021).
Baca juga : Kasus mutasi corona Inggris terdeteksi di daerah ini
24 kasus baru positif korona di Papua Barat, Tiniap: Jumlah kasus capai 2016
Ratusan warga asing tiba di Jakarta langsung dikarantina
Nadia menjelaskan sampel varian baru ini berasal dari warga DKI Jakarta yang spesimennya telah diuji menggunakan metode pencarian strain baru virus, Whole Genome Sequence (WGS) pada Februari 2021 lalu.
Saat ini individu yang terkonfirmasi positif terpapar mutasi virus dari Jepang itu sudah sehat dan terus dipantau Kementerian Kesehatan. Nadia menegaskan masih melakukan penelusuri lebih lanjut mengenai lokasi hingga status konfirmasi kasus tersebut.
“Kita ketahui vaksin dan protokol kesehatan merupakan cara yang masih sangat efektif untuk mengendalikan penularan mutasi Covid-19,” kata Nadia menjelaskan.
Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito sebelumnya juga sempat mewanti-wanti masyarakat akan potensi munculnya varian E484K di Indonesia.
“Ini berdasarkan penelitian varian corona itu dinilai lebih cepat menularkan virus,” kata Wiku.
Menurut dia, ada tiga varian virus SARS-CoV-2 yang mendapat perhatian khusus global saat ini, yakni B.1.1.7 (Inggris), B.1.351 (Afrika Selatan), dan B.1.1.28/ P1 (Brasil).
Ketiga varian itu dilaporkan juga memiliki mutasi pada lonjakan protein yang dinamakan E484K. (*)
CNN Indonesia
Editor : Edi Faisol
