
Jayapura, Jubi – Dinas Perkebunan Provinsi Papua berharap tahun 2019 ini, ada penyelenggaraan festival kopi yang skalanya lebih besar dari tahun sebelumnya.
Kepala Dinas Perkebunan Papua, Jhon Nahumury mengklaim festival kopi yang digelar sebelumnya pada 2018 berhasil memerkenalkan kopi asli Papua ke dunia luar. Untuk itu, perhelatan itu perlu dilakukan lagi di tahun ini.
“Kami akan segera berkoordinasi dengan Bank Indonesia Papua sebagai inisiator penyelenggara Festival Kopi Papua, agar kegiatan tersebut skalanya dapat diperbesar,” kata Jhon, di Jayapura, Selasa (5/3/2019).
Menurut ia, festival kopi 2018 berhasil membawa kopi asal Tiom, Kabupaten Lanny Jaya menjadi produk yang paling dikenal, karena hasil lelangnya memecahkan rekor kopi termahal.
Karenanya pada 2019, Pemerintah Provinsi Papua akan berusaha menyiapkan produk kopi dari kabupaten lainnya. Karena secara kualitas bisa dianggap cukup baik dan diyakini dapat diterima oleh pasar dalam negeri maupun luar negeri.
“Nanti kita atur baik agar kopi-kopi dari daerah lain di Papua bisa dilelangkan, terutama terkait dengan persyaratannya. Juga terkait dengan jumlah produksinya yang harus kita sepakati bersama, termasuk hal lain yang mempengaruhi harga,” katanya.
Pihaknya juga memiliki rencana agar festival kopi 2019 bisa digabungkan dengan festival pariwisata dan budaya Papua yang sudah jadi agenda rutin tahunan.
“Ini kami lakukan agar ada sinergisitas dengan festival pariwisata dan budaya yang ada di Papua, yang terpenting festival kopi Papua harus dijadikan agenda tahunan,” ujarnya.
Sebelumnya, Gubernur Papua Lukas Enembe mengatakan Papua saat ini membutuhkan tenaga ahli untuk mengembangkan dan memanfaatkan potensi-potensi lokal, seperti sagu dan kopi.
“Sagu dan kopi Papua kualitasnya sangat baik, hanya saja belum dikembangkan dan dikelola secara baik untuk kemudian di ekspor keluar, jadi kami butuh pemikir-pemikir yang handal di bidang ini,” kata Enembe.
Ia menilai, Sumber Daya Manusia (SDM) Papua belum mampu mengelola potensi yang ada saat ini. Oleh karena itu, kami butuh orang-orang yang memiliki keahlian mengelola sumber daya alam dengan baik.
“Makanya saya terus mendorong sektor ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat Papua, sehingga seluruh potensi yang ada kedepan bisa dikelola orang Papua sendiri,” ujarnya. (*)
Editor: Syam Terrajana





