
Awalnya pada siang hari, lebih dari seribu orang melakukan unjuk rasa dengan damai, mereka mengibarkan bendera serta spanduk Uighur
Papua No. 1 News Portal | Jubi
Hong Kong, Jubi – Bentrokan antara polisi dan pengunjuk rasa di Hong Kong kembali terjadi pada Minggu, (21/12/2019), mereka usai menggelar demonstrasi dengan agenda mendukung etnis Uighur China.
Aparat kepolisian sempat menyemprotkan cairan merica untuk memecah kerumunan demonstran tersebut, sebelum kemudian membuat barisan untuk berhadapan dengan orang-orang yang melemparkan botol kaca dan batu.
Baca juga : Demonstran Hong Kong terkepung di kampus Ini kondisi Hong Kong usai bentrokan demonstran
Carrie Lam akan gelar dialog dengan demonstran Hong Kong
Awalnya pada siang hari, lebih dari seribu orang melakukan unjuk rasa dengan damai, mereka mengibarkan bendera serta spanduk Uighur, sebagai bagian dari demonstrasi yang terus-menerus dilakukan tanpa henti sejak enam bulan lalu.
Dalam kerumunan orang tersebut bercampur para anak muda dan orang tua, mengenakan pakaian hitam dan masker untuk menutupi identitas mereka, mengangkat poster bertuliskan “Bebaskan Uighur, Bebaskan Hong Kong” serta “‘Otonomi’ palsu di China hasilkan genosida”.
Unjuk rasa kali ini juga dilakukan setelah pemain sepak bola klub Inggris Arsenal, Mesut Ozil, menyebabkan keramaian di China karena mengkritik kebijakan pemerintah terhadap etnis minoritas Muslim di wilayah Xinjiang itu.
Ozil, yang merupakan warga Muslim Jerman asal Turki, menulis cuitan yang menyebut orang-orang Uighur adalah pejuang yang tahan terhadap persekusi, dan mengkritik kekuatan China di Xinjiang serta bagaimana sesama Muslim diam dalam merespon hal itu.
Pakar dan aktivis dari Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menyebut setidaknya ada satu juta orang Uighur dan anggota etnis Muslim lainnya tertahan di “kamp” di Xinjiang sejak 2017 di bawah kampanye pemerintah China.
Namun pemerintah China menyatakan penahanan di kamp itu sebagai masa pelatihan kejuruan untuk membantu menghentikan separatisme serta mengajarkan keterampilan baru dan membantah perlakuan salah terhadap Uighur, yang bagaimanapun dikutuk oleh banyak negara. (*)
Editor : Edi Faisol




