Dampak Covid-19, pendapatan UMK di Jayapura tak menentu

papua
Tokoh souvenir di Pasar Hamadi, Jayapura, Papua -Jubi/Theo Kelen.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Beberapa pelaku Usaha Mikro dan Kecil (UMK) di Jayapura, Papua mengaku pendapatan mereka tidak menentu dan mengalami penurunan. Diperbolehkannya aktivitas warga hingga pukul 21.00 WIB terkait penanganan Covid-19 masih belum banyak membantu.

Read More

Amul, penjual cendera mata di Pasar Hamadi, Jayapura, Papua mengatakan pendapatannya terkadang Rp500 ribu dan Rp700 ribu sehari.

BACA JUGA: Mahasiswa akuntansi Uncen dampingi pelaku Usaha Mikro dan Kecil

“Bahkan empat bulan terakhir pendapatan sama sekali susah,” ujarnya kepada Jubi, Jumat (11/12/2020).

Kondisi paling pahit bagi Amul adalah ketika akses pelabuhan dan bandara di Jayapura ditutup untuk mengatasi penyebaran Covid-19. Saat itu usahanya tidak mendapatkan pemasukan sama sekali.

“Kita penjual barang seni begini, souvenir, oleh-oleh toh, kita harap tamu saja, selama akses bandara dan pelabuhan ditutup tidak ada pendapatan, siapa yang mau beli?” kata penjual asal Makassar tersebut.

Amul menjual noken, koteka, dan tas kulit. Harga noken berkisar Rp200 ribu sampai Rp500 ribu dan koteka Rp50 ribu hingga Rp75 ribu.

“Produknya saya beli, seperti noken dari Nabire, juga dari Wamena, sedangkan koteka dari Wamena,” katanya.

Pelaku UMK lainnya, David Auparai penjual ikan asap di Pasar Hamadi mengatakan di masa Covid-19 pendapatannya mengalami penurunan karena minimnya pembeli.

“Sebelum korona bisa jual hingga 30 ekor per hari, tapi saat ini turun hanya 15 bahkan 10 ekor per hari,” ujar penjual asal Serui tersebut.

David memakai ikan cakalang yang dibelinya Rp30 ribu. Setelah diasap lalu dijual dengan harga Rp50 ribu. Keuntungannya yang diperolehnya Rp20 ribu.

“Tapi itu belum bersih, karena harus beli lidi untuk tusuk ikan dan bayar ongkos Rp5 ribu, kalau bersihnya, ya sekitar Rp10 ribu atau Rp15 ribu,” katanya.

Kendala lain, kata David, adalah kesulitan meminjam modal di bank, karena tidak memiliki jaminan. Jika meminjam di koperasi terbeban akan setoran setiap hari.

“Saya su malas pinjam di koperasi, kitong belum ada pemasukan, mereka sudah datang tagih, kalau di bank harus punya jaminan seperti motor, saya sudah ajukan beberapa kali tapi tidak dipinjamkan juga,” ujarnya.

Jerry Langi, pembina Kelompok Tumbuh Bersama (KTB) UKM Ardipura, Jayapura, Papua mengatakan selama dua bulan berproduksi penghasilannya masih kurang dengan pendapatan Rp8 juta.

“Kami rasa masih kurang, tentunya kita ingin dapat banyak, tapi kami tetap bersyukur dan kemarin kami baru bagi hasil produk ditambah Rp500 ribu per orang untuk 10 anggota kami,” katanya.

Produk Kelompok Tumbuh Bersama UMK Adipura terdiri dari minyak kelapa murni atau Virgin Coconut Oil(VCO), ikan tuna asap, ikan suir, dan yang sedang dikembangkan adalah bandeng presto.

Kendala yang dihadapai, kata Jerry, adalah biaya produksi dan pengiriman yang terlampau mahal. Misalnya untuk ikan tuna asap, permintaan dari Jakarta 70 ekor hanya bisa dipenuhi 35 ekor karena biaya kargo Rp1,5 juta per kubik.

“Ikan tuna di pelelangan saat ini 10 ekor itu Rp700 ribu, kalau kita paksakan produksi tidak mungkin, kita kan mau cari untung bukan rugi,” ujarnya.

Menurut Jerry harga penjualan ikan tuna asap Rp60 ribu, tapi di Jakarta untuk 800 gram berkisar Rp90 ribu. Sedangkan harga Virgin Coconut Oil (VCO) 350 ml Rp50 ribu dan 600 ml Rp90 ribu, serta ikan suir Rp60 ribu.

“Saat masa pandemi ini orang-orang mau beli yang murah, sementara buat minyak kelapa murni itu prosesnya sangat berat dan agak mahal dijual,” katanya.

Ia berharap pemerintah, terutama Dinas Perindustrian dan Perdagangan bisa memberikan dukungan berupa peralatan, misalnya mesin asap ikan tuna, sehingga bisa menekan biaya produksi.

“Kami produksi masih pakai manual serta khusus pemasaran di Jayapura masih dari mulut ke mulut melalui jemaat di geraja dan media sosial,” ujarnya. (CR-7)

Editor: Syofiardi

Related posts

Leave a Reply