Corona tak pengaruhi pembangunan pembangkit tenaga nuklir di China

Nuklir Papua
Ilustrasi nuklir atom. - pixabay.com
Ilustrasi nuklir atom, pixabay.com

China mempunyai kapasitas mengolah 76,800 meter kubik limbah nuklir per tahun, dengan sekitar 45 ribu meter kubik sedang dimanfaatkan tapi perlu membangun lebih banyak fasilitas untuk menangani reaktor baru yang mulai beroperasi.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Read More

Beijing, Jubi – Wabah corona tak akan berdampak pada kemajuan pembangunan pembangkit tenaga nuklir di China. Seorang pejabat keselamatan nuklir China, Rabu, (15/4/2020) mengatakan dalam jangka pendek reaktor-reaktor yang sudah beroperasi tak terpengaruh wabah Covid-19.

“Pembangunan 15 unit reaktor yang belum selesai sudah dilanjutkan dan pembangkit-pembangkit yang sudah beroperasi tak ditangguhkan selama wabah,” kata Tang Bo, direktur bagian inspeksi keselamatan nuklir di Kementerian Ekologi dan Lingkungan (MEE).

Baca juga : AS kembali tekan China agar gabung perundingan nuklir

Trump sangsikan komitmen denuklirisasi Korea Utara

Kim Jong Un ancam teruskan program nuklir

China semula bermaksud mengembangkan kapasitas nuklir secara menyeluruh hingga 58 gigawatt (GW) pada akhir tahun ini, dan 30 GW lagi yang sedang dalam pembangunan. Namun diperkirakan target itu tak tercapai akibat penundaan proyek sebelumnya dan jeda karena menunggu izin baru.

Pada awalnya China berharap menyetujui sedikitnya enam proyek nuklir baru tahun ini. China punya 47 pembangkit secara keseluruhan yang beroperasi pada akhir tahun lalu, dengan total kapasitas 48,75 GW.

Dalam pengarahan yang sama, Direktur bagian keselamatan radiasi, Jiang Guang, mengatakan China secara aktif sedang mencari tempat baru untuk membangun pabrik pengolah limbah nuklir. “Dan ini juga akan memperbesar kapasitas dari tiga fasilitas yang ada,” kata Jiang.

Tercatat China mempunyai kapasitas mengolah 76,800 meter kubik limbah nuklir per tahun, dengan sekitar 45 ribu meter kubik sedang dimanfaatkan tapi perlu membangun lebih banyak fasilitas untuk menangani reaktor baru yang mulai beroperasi.

Pihak berwenang juga telah memilih sembilan tempat potensial untuk satu program pengolahan limbah radiasi tinggi bawah tanah. (*)

Editor  Edi Faisol

Related posts

Leave a Reply