Papua No. 1 News Portal | Jubi ,
Oleh: Florentinus Tebai
Saya secara pribadi tertarik untuk memulai tulisan sederhana ini, setelah mendengar beberapa pernyataan yang dilontarkan oleh berbagai kalangan dalam aktivitasnya, bahkan di-posting di media-media sosial, seperti facebook, twiter, dan instagram yang menaikkan foto dan menuliskan seperti ini: “Budaya itu identitas kita, budaya itu jati diri kita”.
Setelah saya melihat beberapa pernyataan seperti itu, saya kemudian berpikir bahwa memang pernyataan-pernyataan seperti itu sangat benar dan tepat. Bahkan itu sangat penting dan mendasar dalam melangsungkan kehidupan ini sebagai manusia yang memiliki identitas dan budaya sebagai jati diri yang sejati.
Namun, dari pernyataan-pernyataan yang benar dan tepat ini, saya merasa ada yang kurang beres, bahkan ada ketidaktepatan dan kesesuaian dengan semua yang terjadi dalam realita kehidupan pada masa kini—era yang mengglobal ini. Saya secara pribadi menyadari bahwa kita sedang dipengaruhi, bahkan terbawa arus perkembangan di era yang mengglobal, yang secara terus-menerus dan perlahan meninggalkan budaya kita sebagai identitas dan jati diri kita sebagai pribadi yang berbudaya dan memiliki jati diri.
Era yang menglobal adalah era yang mendapat banyak manfaat yang menguntungkan dalam berbagai bidang kehidupan, tak terkecuali dalam bidang budaya. Akan tetapi, banyak juga yang membawa pengaruh yang berdampak pada nilai-nila kehidupan dalam bermasyarakat, secara khusus dampak dari pentingnya nilai kebudayaan dalam bermasyarakat.
Berhubungan dengan itu, di era yang serba mengglobal ini juga, budaya sebagai jati diri kita dan sebagai identitas kita mendapat perhatian yang paling penting dan mendasar, sebab jika kita tidak mengenal dan menghargai budaya sebagai identitas kita dan budaya sebagai jati diri, maka akan turut mempercepat proses kelumpuhan dan kehilangan jati diri sebagai pribadi yang berbudaya dan memiliki jati diri dalam perkembangan, dan pengaruh dari luar.
Budaya itu paling penting dan mendasar. Oleh karena itu, kita tidak perlu bertanya pada diri kita tentang budaya sebagai identitas dan jati diri kita, apa yang kita mau hidupi dan menjadikannya sebagai landasan hidup sebagai identitas dan jati diri kia sebagai pribadi yang berbudaya dan memiliki identitas, sebab kita sudah memiliki dan telah mengenal banyak budaya kita di tengah-tengah kita sejak dahulu kala.
Contohnya, kita memiliki bahasa daerah, lagu-lagu tradisional, tarian tradisional, pakaian tradisional, dan musik-musik tradisional. Itulah budaya kita yang sebenarnya. Oleh sebab itu, kita tidak perlu lagi bertanya pada diri kita: apa budaya saya dan telah menjadikannya sebagai landasan hidup dalam melangsungkan kehidupan saya.
Tugas kita sebagai pribadi-pribadi yang berbudaya dan memiliki jati diri dan identitas melalui budaya kita setempat sekarang ini, ialah bagaimana kita menghidupkan dan menjadikannya sebagai landasan hidup dalam menjalani kehidupan di tengah-tengah pengaruh era yang semakin mengglobal ini.
Alasan paling penting dan mendasar dari pentingnya suatu budaya adalah karena lupa akan budaya. Berarti lupa akan identitas dan jati dirinya sebagai pribadi yang berbudaya, seperti yang dilontarkan beberapa pernyataan di atas. Jika terjadi demikian, kita kehilangan bangsa yang memiliki budaya dan bangsa yang memiliki identitas dan jati dirinya sebagai satu bangsa.
Budaya itu sangat penting, sebab budaya itu menyemangati dan membangkitkan suatu kehidupan yang harmonis. Hal ini karena, budaya memiliki roh penyemangat yang terungkap melalui semua bentuk ekpresi dari budaya-budaya kita.
Kita harus menyadarinya bahwa budaya itu paling penting dan mendasar, sebab kita adalah pribadi-pribadi yang berbudaya yang memiliki identitas dan jati diri sebagai bangsa yang berbudaya, dan bukan kita adalah pribadi-pribadi zaman now yang gampang terpengaruh oleh dampak dan perkembangan dari era globalisai yang serba modern dan kian mengglobal ini. Kita harus menyadari hal itu. Kita adalah pribadi yang berbudaya.
Akhirnya, budaya adalah sesuatu yang paling penting dan mendasar yang patut diperhitungkan dalam kehidupan, sebab budaya adalah sesuatu yang mengandung makna dan nilai dari sebuah bangsa. Sebuah bangsa yang memperhatikan budaya adalah sebuah bangsa yang memancarkan jati dirinya sebagai manusia yang berbudaya dan manusia yang berbudaya adalah manusia yang sejati.
Kini, tergantung dari kita semua yang memiliki budaya sebagai jati diri dan identitas. Apakah kita mau berusaha untuk mau mengenal dan menghargai budaya kita dengan baik dan benar, sekaligus mau menjadikannya juga sebagai landasan hidup sambil menghayatinya dalam menjalani seluruh kehidupan kita sebagai pribadi-pribadi yang berbudaya dan berjati diri.
Usaha untuk mempertahankan dan menghidupi budaya yang ada tidaklah cukup bila hanya dapat dilakukan oleh pribadi-pribadi yang memiliki budaya. Oleh karena itu, dalam upaya seperti ini perlu membutuhkan kerja sama dari semu pihak, tak terkecuali dari pihak pemerintahan melalui dinas kebudayaan nasional, untuk memperhatikan dan mengambil kebijakan yang tepat dan benar terhadapa budaya-budaya kita yang ada ini, sebelum budaya kita sebagai identitas dan jati diri sebagai bangsa terancam punah oleh perkembangan dan arus modernisasi yang semakni hari kian mengglobal.
Kesadaran diri kita sebagai diri yang berbudaya dan memiliki identitas merupakan keutuhan dan kekuatan sebagai satu bangsa. Ini dapat dikenal dan dibangun dengan baik dan benar melalu mengenal, menghargai dan menjadikan budaya itu sendiri sebagai suatu landasan hidup, sambil menghayati nilai-nilai budaya yang ada. Sikap mengenal dan menghargai adalah awal dari suatu gerakan dalam upaya menyelamatkan budaya kita di tengah arus perubahan perkembangan di era yang mengglobal ini. Diri dan bangsa yang memiliki identitas dan jati diri adalah diri dan bangsa yang peka terhadap budaya. (*)
Penulis adalah mahasiswa STFT Fajar Timur Abepura
