
Pelaku siber itu berusaha mengidentifikasi dan secara ilegal memperoleh kekayaan intelektual yang berharga (IP) dan data kesehatan masyarakat terkait dengan vaksin, perawatan, dan pengujian dari jaringan dan personel yang berafiliasi dengan penelitian Covid-19.
Papua No. 1 News Portal | Jubi
Washington, Jubi – Para peretas yang memiliki hubungan dengan China dituduh membobol organisasi Amerika Serikat yang melakukan penelitian terhadap Covid-19. Para pejabat AS pada hari Rabu, (13/5/2020) kemarin memperingatkan para ilmuwan dan pejabat kesehatan masyarakat mewaspadai pencurian siber.
Dalam sebuah pernyataan bersama, Biro Investigasi Federal dan Departemen Keamanan Dalam Negeri mengatakan (FBI) sedang menyelidiki pembobolan digital di organisasi AS oleh pelaku siber yang berhubungan dengan China.
Baca juga : Serangan siber serbu sejumlah perusahaan Spanyol
Menkopolhukam : Indonesia Bisa Serang Australia Melalui Siber
“Lizard Squad” Mengklaim Berada di Balik Hilangnya Facebook Selasa (27/1) Lalu
Berdasarkan pemantauan, pelaku siber itu berusaha mengidentifikasi dan secara ilegal memperoleh kekayaan intelektual yang berharga (IP) dan data kesehatan masyarakat terkait dengan vaksin, perawatan, dan pengujian dari jaringan dan personel yang berafiliasi dengan penelitian Covid-19.
Pernyataan itu tidak memberikan rincian lebih lanjut tentang identitas target atau peretas. Kedutaan Besar China di Washington mengutuk tuduhan itu sebagai kebohongan.
“FBI mengeluarkan peringatan berdasarkan praduga bersalah dan tanpa bukti,” kata kedutaan dalam pernyataan tertulis. Peryataan itu menyebut tuduhan AS memotong kerja sama internasional yang sedang berlangsung melawan pandemi.
Penelitian dan data terkait corona telah muncul sebagai prioritas intelijen utama bagi peretas dari semua kalangan dan organisasi intelijen Barat telah berulang kali membunyikan tanda bahaya terhadap penargetan organisasi kesehatan masyarakat dan farmasi.
Dalam pernyataan terpisah yang dikeluarkan sebelumnya pada hari Rabu, kepala badan intelijen Selandia Baru mengutuk setiap upaya yang menargetkan infrastruktur penelitian Covid-19.
“Kami menyerukan semua pelaku dunia maya untuk menahan diri dari aktivitas yang dapat membahayakan respons nasional atau internasional terhadap pandemi COVID-19,” kata Andrew Hampton, direktur jenderal Biro Komunikasi Pemerintah Selandia Baru.
Reuters pekan lalu melaporkan mata-mata siber yang memiliki hubungan dengan Iran menargetkan staf di perusahaan obat AS, Gilead Sciences Inc., yang obat antiviralnya terbukti membantu pasien Covid-19.
Pada bulan Maret dan April, Reuters melaporkan upaya peretas tingkat lanjut untuk membobol Organisasi Kesehatan Dunia ketika pandemi menyebar ke seluruh dunia. (*)
Editor : Edi Faisol




