
Trump telah menyinggung keinginan tersebut ketika ia bertemu secara terpisah dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping
Papua No. 1 News Portal | Jubi,
Washington, Jubi – Para pejabat Amerika Serikat dan Rusia akan melakukan pertemuan di Jenewa pada Rabu (17/7/2019) untuk membahas konsep perjanjian baru soal pembatasan senjata nuklir, yang bisa mencakup China.
Beberapa pejabat tinggi AS, Senin (15/7/2019), menyebut Presiden AS Donald Trump telah menyatakan ingin ada kesepakatan pengendalian senjata “generasi berikutnya” dengan Rusia dan China terkait semua jenis senjata nuklir.
Trump telah menyinggung keinginan tersebut ketika ia bertemu secara terpisah dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping, termasuk baru-baru ini selama pertemuan puncak G20 di Osaka pada Juni.
Baca juga : Rusia Kritik AS terkait sengketa Huawei
AS dan Turki bahas pertahanan rudal buatan Rusia
AS tuding Rusia kerahkan ahli siber ke Venezuela
China tidak menjadi pihak penandatangan perjanjian senjata nuklir antara Amerika Serikat dan Rusia. Belum ada kejelasan apakah Beijing bersedia dimasukkan ke dalam pembicaraan, kata pejabat-pejabat tersebut kepada para wartawan.
Delegasi AS akan dipimpin oleh Wakil Menteri Luar Negeri John Sullivan dan antara lain akan terdiri dari penasihat utama pada Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih Tim Morrison, perwakilan Departemen Pertahanan, Kepala Staf Gabungan serta Badan Keamanan Nasional.
Sementara itu, delegasi Rusia akan dipimpin oleh Wakil Menteri Luar Negeri Sergei Ryabkov, kata pejabat AS.
Tercatat hubungan dingin antara Amerika Serikat dan Rusia telah berlangsung bertahun-tahun. Hubungan itu memburuk setelah Rusia mencaplok Krimea dari Ukraina pada 2014 dan mendukung Presiden Suriah Bashar al-Assad dalam perang Suriah.
Trump telah berupaya memperbaiki hubungan kedua negara namun terhalang karena penyelidikan, yang berlangsung dua tahun, atas dugaan bahwa agen-agen Rusia mencampuri pemilihan presiden AS pada 2016 dengan melancarkan serangan terhadap saingan Trump dari Partai Demokrat, Hillary Clinton.
Penyelidikan yang dipimpin oleh Jaksa Khusus AS Robert Mueller menghasilkan laporan yang menunjukkan tidak ada bukti cukup untuk menyatakan bahwa tim kampanye Trump bersekongkol dengan Moskow. Kremlin, kantor kepresidenan Rusia, juga membantah melakukan campur tangan dalam Pilpres AS 2016. (*) Editor : Edi Faisol




