
Papua No. 1 News Portal | Jubi
Jalanan becek dan berlumpur tidak mematahkan semangat Yoseph Kaan untuk menamatkan studinya. Dia bercita-cita menjadi polisi atau melanjutkan ke universitas.
DUA jam perjalanan harus ditempuh Yoseph Kaan dengan berjalan kaki saat bersekolah. Jalanan setapak yang dilewati saban hari itu kondisinya sering becek dan berlumpur.
Kaan selalu mengenakan seragam, tetapi kerap tidak bersepatu saat ke sekolah. Dia bahkan harus sering menyingsingkan celana saat melintasi genangan air di jalanan. Hujan deras seharian membuat jalan dari rumah menuju sekolahnya berubah menjadi kubangan dan berlumpur.
Kaan merupakan pelajar SMA Satu Atap (Satap) Terintegrasi Wasur. Dia menumpang tinggal bersama keluarganya di Kampung Wasur, Distrik Merauke.
“Saya tak memiliki kendaraan sehingga harus berjalan kaki. Meskipun jaraknya jauh, saya berkomitmen untuk terus sekolah, sesuai pesan orangtua,” katanya kepada Jubi, Selasa (9/4/2019).
Kaan, yang saat ini duduk di kelas XII, tidak pernah berputus asa, apalagi minder. Dia menganggap kondisi yang dijalaninya merupakan sebuah usaha dan perjuangan untuk meraih masa depan.
“Banyak teman berkendaraan ke sekolah, sedangkan saya harus mengayuh (berjalan) kaki setiap hari. Semua saya lakukan agar bisa meraih cita-cita,” tuturnya.
Lelaki berusia 20 tahun ini telah selesai menempuh ujian akhir dan tinggal menunggu pengumuman kelulusan. Walaupun begitu, dia tetap pergi ke sekolah seperti biasa.
“Saya datang ke sekolah untuk bertemu teman-teman, sekaligus menunggu informasi pengumuman kelulusan.”
Kaan berniat mendaftar di sekolah calon polisi setelah lulus nanti. Jika cita-citanya itu kandas, dia memilih melanjutkan studi ke Universitas Negeri Musamus (Unmus) Merauke.
Pindah sekolah
Kaan berasal dari Kampung Konorauw di Distrik Waan. Kampungnya berada di pedalaman Merauke. Lokasinya sulit dijangkau karena tidak ada akses transportasi umum.
Pengalaman Kaan hingga bisa bersekolah di SMA satap juga penuh liku. Sesuai keinginan orang tuanya, dia semula berstudi di SMA Kimaam, seusai tamat dari SMP Waan.
Karena tidak memiliki keluarga, dia menumpang tinggal di rumah warga selama bersekolah di Kimaam. Setahun kemudian, dia memutuskan pindah ke Wasur untuk bersekolah di SMA satap terintegrasi. Kaan ingin mendapat fasilitas pendidikan lebih layak dan serbagratis, serta dekat dengan tujuan studi berikutnya.
“Saya membawa surat pindah dari SMA Negeri Kimaam sehingga bisa mendaftar dan langsung diterima di SMA Satap Wasur,” ujarnya .
Ketua Komisi Pendidikan DPRD Kabupaten Merauke, Moses Kaibu, meminta pemerintah memperhatikan kebutuhan pendidikan warga Marind di perdalaman, seperti Yoseph Kaan. Menurutnya para pelajar dari Marind rata-rata memiliki motivasi tinggi untuk maju.
“Banyak anak-anak dari Pulau Kimaam bersekolah di Kota Merauke, dan berhasil. Mereka bisa menyelesaikan studi di SMA maupun perguruan tinggi,” kata Kaibu.
Kaibu berharap perhatian pemerintah juga diberikan kepada warga Marind yang telah menyelesaikan studi. Mereka hendaknya diakomodasi dalam penerimaan tenaga honorer maupun seleksi calon pegawai negeri sipil agar bisa bekerja untuk membangun daerah sendiri. (*)
Editor: Aries Munandar





