Apa kelanjutan regionalisme Pasifik?

Tragedi terakhir yang terjadi pekan lalu adalah semua peristiwa lainnya menutupi momen yang seharusnya merupakan perayaan selesainya jabatan seorang sekjen PIF yang hebat, Dame Meg Taylor. - Getty Images

Papua No.1 News Portal | Jubi

Jonathan Pryke

Read More

Pekan lalu merupakan saat yang penuh dengan ancaman bagi regionalisme Pasifik. Kemenangan kontroversial Henry Puna sebagai Sekretaris Jenderal, setelah memenangkan suara 9-8 dalam pertemuan khusus para pemimpin telah memecah Forum Kepulauan Pasifik (Pacific Islands Forum/PIF), dengan lima negara Mikronesia menindaklanjuti ancaman mereka untuk meninggalkan PIF karena kandidat mereka tidak terpilih. Semakin mempersulit situasi, Fiji tampaknya telah memanfaatkan perhatian pada pertemuan tersebut untuk dan mendeportasi Rektor Universitas Pasifik Selatan, Pal Ahluwalia.

Hasil dari keputusan-keputusan ini adalah sebuah wilayah yang terpecah, lebih dalam daripada yang pernah terjadi sebelumnya selang sejarah modern ini. Bagian utara Pasifik marah kepada bagian selatan. Semua pihak marah pada Fiji. Australia dan Selandia Baru juga diserang karena terlalu banyak melakukan sesuatu – atau tidak cukup – tergantung dengan siapa kita berbicara. Sampai situasi bisa menenang, regionalisme Pasifik akan – dalam skenario yang terbaik – hibernasi, dan yang terburuk, tidak dapat diselamatkan kembali.

Mengapa semua hal ini penting? Apa yang dapat dilakukan untuk menjauhkan wilayah Pasifik dari dampak krisis yang tidak dapat dihindari ini dan, mudah-mudahan, mengembalikan Mikronesia?

PIF adalah organisasi multilateral politik dan ekonomi terkemuka di kawasan ini, yang bertanggung jawab untuk memungkinkan kerja sama dan kolaborasi diantara negara-negara anggotanya, dan antara negara-negara anggotanya dengan seluruh dunia. PIF bisa saja dijuluki sebagai sebuah organisasi dengan jadwal pertemuan tanpa akhir dan birokrasi yang terbuang percuma, dan hasil komunike lemah yang tidak banyak memandu kebijakan dalam negeri semua anggotanya.

Kritik seperti ini mendiskreditkan dan mengecilkan pencapaian nyata PIF selama 50 tahun sejarahnya mengenai berbagai masalah, termasuk pengujian dan non-proliferasi senjata nuklir, keamanan regional, pengelolaan perikanan, dan perubahan iklim. Melalui prioritasnya, yaitu untuk mengupayakan kesepakatan bersama semua negara, kawasan ini bisa angkat bicara di tingkat global tentang masalah ini dengan suara yang sangat lantang.

PIF ini juga telah memainkan peranan penting dalam membentuk kembali persepsi tentang wilayah ini. Melalui narasi ‘Blue Pacific’ yang diadopsi secara regional, negara-negara Pasifik dengan tegas membentuk kembali citra kawasannya, dari satu yang cenderung terpencil dan rapuh, menjadi penjaga dari benua samudra yang luas yang tangguh.

Ada lebih banyak hal yang tidak berwujud, dan jauh lebih dalam dari regionalisme Pasifik, yang diabadikan dalam PIF. PIF ini melambangkan banyak nilai dari ‘Talanoa’ – sebuah penceritaan yang mengarah untuk membangun konsensus dan pengambilan keputusan – sesuatu yang sangat erat dengan banyak budaya Pasifik. Idenya dari sebuah forum adalah membantu memelihara hubungan pada budaya dan identitas bersama yang dirasakan secara mendalam di seluruh pelosok Pasifik, dari Niue hingga Nauru. Bagi banyak negara, langkah pertama adalah kemerdekaan, dan yang kedua untuk bergabung dengan PIF dalam perjalanan menuju kedaulatan.

Untuk semua alasan itulah PIF sebenarnya sangat penting bagi Pasifik, dan Australia. Lebih lanjut, PIF juga mengangkat Australia (dan Selandia Baru) dan memberi mereka status istimewa di Pasifik. Sebagai anggota, keduanya dapat membangun hubungan politik di daerah ini dengan mengesampingkan pemain eksternal lainnya. Meskipun Australia mungkin terkadang dongkol pada PIF yang tegas dan blak-blakan – itu tidak akan berhenti menerima kecaman akibat perubahan iklim – Australia juga memiliki kepentingan jika PIF bisa berjalan dengan jauh lebih baik daripada yang terjadi saat ini. Drama saat ini bagaikan pengalihan dari tantangan ekstrem yang dihadapi kawasan Pasifik, mulai dari kelesuan ekonomi akibat Covid-19 hingga persaingan geostrategi yang semakin intensif.

Jadi apa yang akan terjadi sekarang? PIF tanpa Mikronesia akan sangat terpengaruh. Meskipun hanya mencakup 3% dari populasi kawasan Pasifik, lima negara Mikronesia melingkupi hampir sepertiga dari keanggotaan PIF. Persatuan adalah hal utama untuk menjaga kekuatan PIF, dan suara kawasan Pasifik di panggung global akan berkurang secara signifikan tanpa kehadiran negara-negara kepulauan kecil ini. PIF sendiri akan semakin terbatas dalam bertahun-tahun yang akan datang selama era Zoom, dimana PIF perlu terus mempertahankan relevansinya bagi orang-orang Kepulauan Pasifik.

Langkah pertama, untuk semua negara anggota, adalah berusaha untuk tenang dan mendengar. Situasi sedang panas dan perlu ditenangkan. Perspektif lain harus didengarkan dan semua rasa frustrasi harus diungkapkan. Nalurinya, terutama dari Canberra, adalah untuk bertindak dengan cepat, tetapi kerusakan yang disebabkan oleh isu-isu pekan lalu mungkin perlu waktu bertahun-tahun untuk dapat diperbaiki.

Langkah berikutnya adalah rekonsiliasi dan kompromi. Negara-negara Mikronesia tidak dapat diharapkan untuk mundur begitu saja dari pendirian mereka, setelah menindaklanjuti ancaman mereka untuk mengundurkan diri. Keluhan mereka harus diakui, dan harus ada upaya yang lebih besar dilakukan untuk memastikan suara mereka akan didengarkan di PIF. Ini mungkin melibatkan reformasi struktural di dalam PIF, termasuk mekanisme penyelesaian perselisihan dan proses pemilihan sekjen, serta mengesahkan kesepakatan yang sebelumnya dianggap sebagai perjanjian tidak mengikat tentang keterwakilan semua sub-wilayah dalam jabatan kepemimpinan dan perjanjian yang tegas tentang sekretaris jenderal PIF berikutnya.

Menurut kesepakatan PIF pada 2005, proses pengunduran diri memerlukan waktu satu tahun untuk diselesaikan. Ini berarti para pemimpin masih punya waktu untuk mencoba menyelesaikan masalah ini sebelum proses pengunduran diri Pasifik Utara diselesaikan. Dr. Transform Aqorau telah mengungkapkan saran penting darinya tentang reformasi apa yang dibutuhkan.

Negara yang paling tidak dapat ditebak dalam semua permasalahan ini adalah Fiji. Pemerintahnya sekarang telah mewarisi posisi Ketua PIF, dan bersikeras pertemuan berikutnya harus dilakukan di Suva pada bulan Agustus ini. Meskipun Fiji pasti ingin tetap fokus pada isu perubahan iklim, Fiji sekarang punya kesempatan untuk membentuk pertemuan mendatang sebagai rekonsiliasi regional. Untuk melakukan itu, pemerintah parpol FijiFirst perlu menyelesaikan masalahnya sendiri sehubungan dengan USP, menerima bahwa USP itu bukan lembaga nasional tetapi sebagai entitas regional yang fundamental, dan memberdayakan Dewan USP untuk memberlakukan reformasi di tingkat eksekutif.

Tragedi terakhir yang terjadi pekan lalu adalah semua peristiwa lainnya menutupi momen yang seharusnya merupakan perayaan selesainya jabatan seorang sekjen PIF yang hebat, Dame Meg Taylor, yang telah menjadi pionir sepanjang karirnya dan akan meninggalkan warisan yang kekal dan signifikan pada PIF dan Sekretariatnya. (The Interpreter)

Jonathan Pryke adalah Direktur Program Kepulauan Pasifik di Lowy Institute.

 

Editor: Kristianto Galuwo

Related posts

Leave a Reply