Adakah souvenir khas Papua untuk PON 2020?

Ilustrasi, mama-mama pedagang noken khas Papua - Jubi/Agus Pabika
Ilustrasi, mama-mama pedagang noken khas Papua – Jubi/Agus Pabika

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh: Hari Suroto

Read More

Ketika mengantar Dylan Gaffney, mahasiswa Cambridge University Inggris, berkunjung ke Kampung Abar, Sentani, untuk melihat produk kerajinan tradisional gerabah, pada hari itu tidak ada aktivitas pengrajin.

Dan ketika bule ini ingin membeli gerabah untuk dibawa pulang ke Inggris, ternyata tidak ada gerabah yang siap jual, yang ada hanyalah gerabah yang masih basah dalam proses pengeringan dan itu pun jumlahnya tidak seberapa.

Dua bulan sebelumnya ada pengalaman lagi ketika mengantar Hsiao-chun Hung dari Australian National University ke Pulau Asei, Sentani Timur. Dalam kunjungan itu, selain untuk membeli lukisan kulit kayu sebagai oleh-oleh juga ingin melihat proses pembuatan lukisan kulit kayu.

Ketika kami tiba di Pulau Asei, lukisan kulit kayu yang sudah jadi sudah ada tetapi pengrajin yang sedang melukis sedang keluar pulau.

Dari dua pengalaman tersebut, dalam pikiran saya, jika dikaitkan dengan PON 2020, siapkah kita? Dari segi infrastruktur mungkin Papua sudah siap, tetapi apakah kita siap menyambut begitu banyaknya peserta yang datang, bahkan ribuan.

Yang dimaksud dalam hal ini adalah saat para peserta tersebut selesai bertanding tentu akan melakukan perjalanan ke obyek-obyek wisata sekitar kota maupun Sentani.

Selain itu para peserta PON 2020 juga akan mencari oleh-oleh untuk dibawa pulang, oleh-oleh yang bertema PON pasti sudah banyak dijual seperti kaos, tas, jersey, jaket, boneka mascot, dan topi. Tetapi oleh-oleh khas tradisonal Jayapura apakah sudah tersedia dan siap ketika ribuan peserta PON mencarinya?

Saya kira berbicara tentang PON tidak hanya sekitar olahraga saja, tetapi juga berkaitan dengan pemberdayaan pengrajin gerabah, pengrajin lukisan kulit kayu, mama-mama perajut noken, dan olahan makanan tradisional hasil kreasi mama-mama.

PON masih setahun lagi, semua pihak harus bekerja sama untuk mempersiapkannya dengan baik. Bagi pelukis kulit kayu, mulai dari sekarang harus lebih banyak berkreasi, tidak hanya menggambar motif-motif tradisional Sentani, tetapi juga menggambar motif maskot PON 2020 dalam lukisan kulit kayu, atau mengkreasikannya dengan motif-motif tradisonal yang sudah ada.

Apalagi maskot PON 2020 adalah kanguru dan burung cenderawasih, yang merupakan fauna endemik Papua dan sudah sangat familiar dengan masyarakat Papua.

Bagi pengrajin gerabah di Kampung Abar, tentu saja tidak hanya gerabah-gerabah tradisional saja yang kuantitas produksinya ditambah, tetapi juga perlu berkreasi membuat patung-patung maskot PON 2020 berbahan tanah liat.

Kampung-kampung di Danau Sentani juga terdapat pengrajin patung berbahan kayu, seperti pengrajin dari Kampung Doyo Lama, Kampung Babrongko, Kampung Ayapo, dan kampung-kampung lainnya. Para pengrajin patung kayu ini juga diberdayakan dan diberi ruang berkreasi menyukseskan PON.

Noken sudah diakui UNESCO sebagai warisan dunia, dan sudah terkenal. Noken ini sudah pasti akan dicari oleh peserta PON 2020. Apalagi jika motif rajutan dalam noken ini berupa maskot PON. Tentu saja noken yang dimaksud dalam hal ini adalah noken tradisional yang terbuat dari bahan kulit kayu bukan benang nilon.

Untuk itu pihak terkait harus saling bekerja sama dan saling mendukung, terutama dinas-dinas terkait, baik di tingkat kabupaten/kota, maupun provinsi yang berkaitan dengan pemberdayaan kampung, pemberdayaan masyarakat, pemberdayaan perempuan, dinas koperasi dan UMKM, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.

Bentuk kerja sama ini adalah dengan memberikan ruang seluas-luasnya bagi seniman tradisional, pengrajin tradisional, mama-mama Papua dalam mensukseskan PON 2020 yaitu dengan pemberian modal, pelatihan, maupun promosi.

Selain itu perlu dukungan juga dari BUMN dan BUMD berkaitan dengan dana tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR, diperlukan pendampingan akademisi dari ISBI Papua agar kualitas karya dari seniman dan pengrajin tradisional selalu terjaga. (*)

Penulis adalah peneliti di Balai Arkeologi Papua

Editor: Timo Marthen

Related posts

Leave a Reply