| Papua No. 1 News Portal | Jubi
Jayapura, Jubi – Sebanyak 50 siswa putra/putri asli Papua program beasiswa Otonomi Khusus (Otsus) yang akan berkuliah di sejumlah universitas Amerika Serikat, tengah menjalani program “online summer term” atau kuliah online (daring) musim panas.
Pembukaan program kuliah online musim panas ini diawali peluncuran secara simbolis yang dilakukan Papua Hope Language Institute (PHLI) lembaga yang mengasuh 50 siswa kerjasama pemerintah provinsi Papua, Corban University Amerika serta Yayasan Cahaya dan Terang untuk Papua.
Kepala Badan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Aryoko F Rumaropen mengatakan, komitmen pemerintah provinsi Papua dalam peningkatan dan pengembangan sumber daya manusia (SDM) anak asli Papua lewat pendidikan terus dipacu, walau dalam situasi pandemi global Covid-19, tidak menyurutkan semangat sejumlah mitra atau lembaga yang menjalin kerjasama pendidikan bersama pemprov Papua, baik lokal dan internasional.
Salah satunya Papua Hope Language Institute (PHLI) yang tengah menyiapkan 50 siswa/siswi asli Papua yang akan berkuliah ke Amerika Serikat. Program yang sama juga telah dilakukan oleh Papua Language Institute (PLI) pada bulan Mei lalu.
Aryoko F Rumaropen menyatakan, Gubernur Papua Lukas Enembe dan Wakil Gubernur Klemen Tinal sangat intens mencetak SDM anak Papua dan telah memberi bukti nyata serta menuai hasil.
“Peningkatan daya saing SDM anak-anak Papua telah dirintis oleh sejumlah gubernur Papua terdahulu. Program ini terus dilanjutkan hingga kepemimpinan Lukas Enembe dan Klemen Tinal serta sudah berjalan kurang lebih 10 tahun,” kata Aryoko F Rumaropen kepada pers usai peluncuran kuliah online musim panas di kompleks sekolah internasional atau Hillcrest International School (HIS) Sentani, kabupaten Jayapura, Papua, Rabu (10/6/2020).
Aryoko F Rumaropen mengatakan pihaknya mempersiapkan anak-anak asli Papua, terutama dari sisi akademik, kemudian kesiapan mental untuk mereka menimba pendidikan di berbagai perguruan tinggi, baik di dalam dan luar negeri.
Dalam perjalanan, kata Rumaropen program ini setelah dievaluasi ternyata kurang efektif, dan persiapan itu akan jauh lebih baik ketika prosesnya dilakukan di Papua sendiri.
Sehingga sepanjang sepuluh tahun ini proses dalam mempersiapkan SDM anak-anak Papua ini dari lulusan sekolah menengah atas (SMA) kemudian dikirim ke luar negeri.
Terkait proses ini maka gubernur Lukas Enembe mendorong dua lembaga yang ada di Papua yakni Papua Language Institute (PLI) dan Papua Hope Language Institute (PHLI) untuk bagaimana menjalankan program ini.
Program ini sendiri kata Rumaropen merupakan tindak lanjut kunjungan pemprov Papua dipimpin gubernur Enembe ke sejumlah univeritas di Amerika Serikat pada medio Mei tahun lalu.
Respons baik ini, mereka [sejumlah universitas di Amerika] membantu pemprov Papua dengan menjalin kerjasama bersama dua lembaga berbahasa Inggris ini, PLI di Waena, Kota Jayapura dan PHLI di Sentani, kabupaten Jayapura untuk mempersiapkan siswa/siswi anak Papua lulusan SMA. Disiapkan baik dari mental, akademik.
Proses untuk menyiapkan mereka untuk bisa bersaing masuk perguruan tinggi di luar negeri.
“Satu hal positif bahwa kami [pemerintah provinsi Papua] bersama pihak sekolah sudah bisa mengadakan kelas internasional yang dilakukan di Papua,” kata Rumaropen.
Keuntungan lain dari program ini bahwa ada sisi penghematan biaya dari pemprov Papua. Ketika kita mempersiapkan mereka [para siswa] dengan baik, maka universitas mitra pun menyiapkan beasiswa buat anak-anak asli Papua.
“Dengan situasi pandemi korona hari ini, ini juga satu jalan Tuhan buat kita bahwa akhirnya bisa membuat kelas internasional di Papua,” ujarnya.
Kredit mata kuliah yang diambil para siswa ini juga berlaku di sejumlah universitas di luar negeri terkhusus di Amerika.
Hal positif lainnya adalah bahwa selain anak-anak dipersiapkan secara matang dan ada penghematan biaya tetapi juga menumbuhkan minat belajar sekaligus mempertegas bahwa kami orang Papua sudah mampu dan siap untuk bisa bersaing dengan anak-anak dari tempat lain bahkan dari dunia internasional.
“Anak Papua sangat siap. Hari ini kita mempersiapkan 50 siswa yang bisa mengambil kredit mata kuliah. Cuman yang hadir saat ini ada 23 siswa dan sisanya masih menunggu hasil swab PCR keluar untuk segera mereka bergabung,” katanya merinci.
Kuliah ini langsung dari universitas mitra di Amerika Selain itu ada pendampingan dari universitas mitra bagi para guru berkualifikasi internasional di Papua yang sudah bisa menjadi tutor.
Direktur Papua Hope Languange Institute, Matt Basinger mengatakan dalam menyiapkan prestasi akademik siswa/i anak asli Papua, lembaganya mengutamakan tiga hal pokok sebagai landasan utama. Pertama mengenal Tuhan, memahami diri sendiri dan melayani orang lain. Ketiga hal ini digambarkan dalam sebuah nyala lilin.
“Kami yakin bahwa jika kami [PHLI] dapat menerapkan pendidikan siswa sesuai urutan kepentingan ini. Pertama Tuhan, identitas kedua dan akademik ketiga, maka siswa ada dasar yang kuat untuk sukses dalam bahasa Inggris atau Matemetika atau topik lainnya,” kata Matt Basinger yang fasih berbahasa Indonesia.
Basinger berterimakasih kepada pemprov Papua lewat gubernur Enembe memberi kepercayaan buat lembaganya [PHLI] terlibat dalam menyiapkan SDM anak-anak Papua untuk berkuliah ke luar negeri.
Hadir pada peluncuran program kuliah online musim panas ini diantaranya Bupati Jayapura Mathius Awoitauw sekaligus secara simbolis menyerahkan laptop kepada perwakilan dua siswa-siswi.
Selian itu hadir pula Kepala Dinas Pendidikan, Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) Papua, Christian Sohilait, Kapolres Jayapura Ajun Komiaris Besar Polisi (AKBP) Victor Dean Mackbon dan sejumlah tamu undangan dari para mitra atau lembaga terkait. (*)
Editor: Edho Sinaga






