Papua No. 1 News Portal | Jubi
Merauke, Jubi- Kebijakan Badan Urusan Logistik (Bulog) Sub Divre Merauke yang hanya membeli gabah telah memunculkan aksi penolakan. Petani merasa dirugikan, karena selain harga yang tidak sesuai, juga dedak dan menir tak bisa didapatkan guna kebutuhan ternak piaraan.
Setelah gelombang protes itu muncul, akhirnya Direktur Utama Perum Bulog melakukan video-confrrence dengan kepala wilayah bulog di seluruh Indonesia termasuk Papua.
“Betul telah dilakukan video-conference dan Dirut Bulog RI menginstruksikan agar selain gabah yang dibeli, juga beras dibeli dari petani,” ungkap Kepala Badan Urusan Logistik (Kabulog) Sub Divre Merauke, Djabiruddin yang dihubungi melalui telpon selulernya Sabtu (2/5/2020).
Dikatakan, setelah kepala wilayah melakukan teleconference dengan pimpinan di pusat, dilanjutkan ke setiap kepala cabang di kabupaten. Intinya menyampaikan seperti demikian. Dimana bulog menyerap juga dengan beras, tidak hanya gabah.
“Saya telah mengundang para mitra bersama perwakilan petani untuk melakukan pertemuan. Sekaligus menyampaikan hasil tersebut dan dapat diteruskan ke petani di kampung-kampung,” ujarnya.
Untuk harga gabah, menurutnya, masuk di gudang bulog Rp 5.300 dengan persyaratan kadar air 14 persen, hampa kotoran 3 persen. Sementara pembelian oleh mitra di petani Rp 4.200/kg.
Sementara beras Rp 8.300 (itu sudah masuk di gudang bulog) dengan persyaratan kadar air 14 persen, tingkat patah 20 persen serta menir kecil 2 persen. Sedangkan harga di tingkat petani, pihak bulog tak bisa menentukan. Karena ada aturan dari Kementerian Perdagangan.
Namun demikian, jelas dia, jika mitra tak membeli sesuai harga yang diinginkan petani, pihak Bulog melalui satuan kerja (satker)-nya akan turun langsung melakukan penyerapan.
Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Distrik Kurik, Martinus Ndiken beberapa waktu lalu menegaskan, pihaknya akan mengerahkan petani melakukan aksi demonstrasi sekaligus menghambur gabah di badan jalan aspal.
“Kami akan lakukan aksi kalau bulog tak meresponi apa yang menjadi keinginan petani untuk membeli juga beras,” katanya. (*)
Editor: Syam Terrajana
